Muhammad, Sang Guru Kehidupan

muhammadBarangkali, banyak di antara kita setelah melakukan shalat Tarawih bisa langsung pulang ke rumah. Sesampai di rumah bisa istirahat lalu menikmati makanan khas Ramadan seperti cendol atau juga bisa bermain bersama sanak keluarga.

Baca lebih lanjut

Iklan

Semesta Menulis Berjuang (Bag. 3 Habis)

semesta menulisMesir terus bergejolak. Belum ada tanda-tanda bendera putih akan dikibarkan. Sesekali tersiar kabar adanya korban jiwa akibat  bentrokan fisik antara kedua kubu. Dan di saat yang sama, agenda padat menunggu untuk di jalankan.

Dalam melayani tamu-tamu luar negeri itu, banyak kekurangan dan kesalahan yang kami lakukan. Seperti kejadian di Alexandria. Kami membawa mereka ke tempat shalat, di mana tidak ada tempat shalat untuk perempuan. Syukurlah hal tersebut bisa kami atasi dengan mencarikan tempat shalat pengganti bagi perempuan sekaligus tempat berwuduk.  Baca lebih lanjut

Semesta Menulis Berjuang (Bag. 2)

semesta menulisSiang itu (5/7) tiga kelas intensif (jurnalistik, fiksi, dan broadcasting) dimulai. Aku sedikit pesimis banyak Masisir yang tertarik untuk ikut acara itu. Salah satu alasannya adalah berubah-ubahnya tempat kegiatan.

Sebelumnya,  2 kelas intensif tersebut akan diadakan di Wisma Nusantara dan Perpustakaan Mahasiswa Indonesia di Kairo (PMIK). Kedua tempat tersebut terletak di kawasan Rab’ah yang merupakan titik utama tempat berkumpulnya demonstran Pro-Mursi. Kalau kegiatan tetap  diadakan di sana, pastinya tidak akan banyak peserta yang berminat.  Setelah lama berputar-putar, akhirnya kami, para panitia Semesta Menulis menetapkan acara akan diadakan di rumah kekeluargaan Banten (KMB) dan rumah kekeluargaan Jakarta (KPJ). Baca lebih lanjut

Semesta Menulis Berjuang (Bag. 1)


semesta menulis
Semua berawal dari mimpi. Setahun yang lalu,  Agus,  Sifrul, Fahmi, Maulani, Dulmajid, Dana, dan aku berkeinginan besar untuk mendatangkan penulis-penulis besar ke Kairo agar bisa berbagi ilmu dengan masisir. Memang itu hanya pembicaran ringan yang belum jelas ujung pangkalnya. Mau dimulai dari mana belu m kentara. Ada rencana dulu itu untuk bekerja sama dengan teman-teman Malaysia untuk mendatangkan para penulis tersebut karena mengundang tokoh berarti harus menyediakan dana yang sangat besar terutama untuk transportasi. Baca lebih lanjut

Taufiq Ismail: Bacalah dan Tulislah! (Wawancara Eksklusif)

Taufiq IsmailMenulis adalah identitas mahasiswa. Barangkali itulah kalimat yang sering didengungkan oleh para penulis-penulis handal saat ini. Seorang mahasiswa memang dituntut  menulis, baik itu tugas ataupun yang lainnya. Tapi, banyak dari mahasiswa, terutama orang Minang di Mesir mengalami kesulitan tatkala diminta untuk menulis.

Untuk itu, kru  Buletin Mitra (Ahwazy Anhar) bersama  Radio Cairo Seksi Indonesia dan kru Terobosan berkesempatan untuk mewawancarai seorang sastrawan nasional yang berasal dari Minangkabau, Taufiq Ismail beberapa waktu yang lalu untuk mengungkap kehidupan beliau hingga bisa menjadi sastrawan yang handal. Baca lebih lanjut

KMM Guncang Masisir

banner acara HUT KMMPagi itu, Ahad 21 April 2013 para panitia Gebyar HUT KMM ke-56 mulai berangkat ke auditorium Shalah Kamil sambil membawa peralatan yang dibutuhkan. Meski acara akan dimulai beberapa jam lagi, para panitia  tetap komitmen untuk mempersiapkan acara seawal mungkin dan  sematang mungkin, karena acara tersebut membawa nama Minangkabau  ke ranah Masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir).

Baca lebih lanjut

Taufiq Ismail: Ayah Saya dan Buya Hamka Sekolah di Parabek

Taufik Ismail di depan Masisir 2Jumat (12/4/2013) penyair ternama, Taufiq Ismail bertatap muka dengan mahasiswa Indonesia di Mesir (masisir) dalam acara bedah novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck  karya Buya Hamka. Acara tersebut terselenggara berkat kerja sama KMM Mesir, FLP Mesir, KKS, PCIM Muhammadiah, dan beberapa lembaga lainnya. Acara yang dijadwalkan mulai pukul 14.00 itu diadakan di Rumah Limas, Mutsallas, Nasr City.

Di awal acara, Taufiq Ismail menyatakan bahwa dirinya takjub dengan mahasiswa yang ada di Mesir, karena meski memiliki keterbatasan literatur  berbahasa Indonesia, tapi masih ada gairah untuk menulis.  Dan ia meminta hal tersebut harus dipertahankan dan juga ditingkatkan. Baca lebih lanjut