Tak Dinyana, Ilmu Di mana-mana

 

Sepulang dari bandara Sukarno Hatta tadi, kebetulan di sebelah saya duduk seorang pejabat dari Kementrian Perhubungan. Kami berkenalan dan berbicara cukup panjang. Ya, setidaknya kemacetan yang harusnya hampir mencapai dua jam terasa begitu cepat.

Umurnya saya takar masih sekitar 40-an tahun. Ia baru pulang dari Jayapura untuk mengurus proyek kementrian yang ia tangani. Ia bercerita panjang tentang sejarah hidupnya.

Bapak itu mengatakan bahwa dirinya dulu hanyalah seorang guru senam, memiliki prilaku yang kurang baik dan hidup dalam dunia yang “gelap” dan bergelimang dosa.

Meski begitu, ia mengaku memiliki guru spritual yang selalu membimbingnya ke arah kebenaran. Dari penyampainnya, ia sangat percaya kepada gurunya tersebut. Bahkan ia bilang kira-kira begini, “Kalau kita melakukan kesalahan, kalau bukan guru kita yang akan membimbing, siapa lagi?”

Benar sekali. Itulah gunanya guru. Ulama juga menyebutkan bahwa salah satu rukun untuk menuntut ilmu adalah adanya guru untuk mengajarkan. Selain itu, bahkan juga dikatakan bahwa siapa yang belajar tanpa guru, maka gurunya adalah setan.

Ia juga menyampaikan bahwa dirinya masuk ke dalam jajaran Kementrian Perhubungan pada umur yang tidak muda, bukan Fresh Graduate. Oleh sebab itu, teman sejawatnya banyak yang heran dan bertanya, “Lho kok bisa masuk jadi pegawai gitu? Bayar berapa loh?”

Bapak tersebut mengatakan bahwa ia tidak membayar atau menyogok sedikitpun orang yang memberinya jalan masuk ke dalam jajaran kementrian. Katanya, itu semua berawal dari niat dan tekat yang bulat.

“Saya pernah berkata kepada diri saya bahwa saya harus memiliki perkerjaan yang lebih bagus, Mas. Bukan hanya sekedar guru senam,” katanya dengan penuh semangat. Ternyata, dengan niat baik tersebut, pintu kebaikan mulai terbuka satu persatu. Ia mulai dikenalkan dengan salah satu pejabat kementrian hingga akhirnya ia bergabung di Kementrian Perhubungan dengan cara yang bersih, tanpa membayar atau menyogok.

Saya kira, hal tersebut ia dapatkan karena niatnya yang bersih, tulus dan selalu dibimbing oleh guru spritualnya.

Ia pun juga memahami keberkahan harta itu bukan terletak pada banyaknya. Makanya, ia tidak bergitu tertarik dengan materi di saat kawan-kawannya ada yang menghalalkan segala cara untuk menjaring uang.

Ia juga memberikan pesan agar kita selalu tawadu’ karena hal itu sangat disukai Allah, apalagi dalam menuntut ilmu. Sebab, jika kita merendahkan hati kita dalam menuntut ilmu maka kita akan mendapatkan ilmu sekaligus keberkahan dari ilmu tersebut.

Di sore mendung nan kelam tadi saya mendapat banyak pelajaran berharga. Salah satunya adalah orang yang hidup dalam dunia gelap sekalipun, ketika Allah berikan hidayah dan petunjuk untuknya, maka derajatnya langsung naik melejit tinggi, dan hal ini persis seperti apa yang dialami Saydina Umar Bin Khattab RA.

 

-Ciputat, 29 April 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s