Para Peneliti Hati

Benarlah perkataan Syekh Sa’id Ramadhan Al-Buthi bahwa waktu yang kita jalani sekarang ini lebih banyak terbuang untuk menjelaskan hal yang telah jelas dan menerangkan yang telah terang. Saat ini, orang non muslim berusaha untuk meneliti mars dan menemukan planet di luar tata surya lainnya sementara umat Islam banyak yang mengambil profesi sebagai peneliti hati orang lain ketimbang berinovasi.

Salah satu permasalahan yang cukup meluas saat ini adalah banyaknya orang yang melemparkan tuduhan syirik kepada orang lain hanya karena alasan sepele sepeti tawassul, menziarahi makam ulama dan mengharap berkah dari para ulama.
Sementara itu dalam khazanah Islam, hal ini telah jelas dan kentara (sama sekali tidak ada masalah) hingga muncullah orang-orang yang mencoba meneliti hati manusia hingga sampai ke titik berburuk sangka. Padahal, melakukan analisa terhadap hati manusia telah dilarang oleh Rasulullah Saw dan merupakan sebuah bid’ah yang sesat.
Dengan alasan takfir ini, di antara mereka ada yang menurunkan manusia ke derajat “تشييء” yang berarti menganggap manusia sama sepeti benda biasa, boleh dipotong kepalanya, boleh diambil tangannya, boleh diambil nyawanya dan lainnya. Penempatan ini bahkan lebih rendah dari pada budak.
Banyak orang-orang yang tertipu hanya karena mereka dekat dengan Alquran dan seolah-olah menjadi pembela sunnah padahal Islam itu sendiri tidak sampai ke hati mereka.
Hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullan dalam sabda beliau:
إن أخوف ما أخاف على أمتي رجل حمل القرآن حتى رئيت بهجته عليه وكان ردءاً للإسلام غيره إلى ما شاء الله فنزعه وراء ظهره وحمل السلاح على جاره ورماه بالشرك، قيل يارسول الله من أولى بالشرك الرامي أم المرمي قال الرامي
” Sesungguhnya sesuatu yang aku takutkan atas kalian adalah seorang laki-laki yang membaca Alquran, sehingga setelah ia kelihatan indah karena al-Qur’an dan menjadi penolong agama Islam, ia merubahnya pada apa yang telah menjadi kehendak Allah. Ia melepaskan dirinya dari al-Qur’an, melemparnya ke belakang dan menyerang tetangganya dengan pedang dengan alasan telah syirik.”
Aku bertanya: “Wahai Nabi Allah, siapakah di antara keduanya yang lebih berhak menyandang kesyirikan, yang dituduh syirik atau yang menuduh?”
Beliau menjawab: “Justru orang yang menuduh syirik [yang lebih berhak menyandang kesyirikan “. (Sahih Ibnu Hibban 1/282)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s