Pendidikan Politik: Fanatisme

Azas utama pendidikan politik adalah fanatisme. Tidak ada yang bisa mengelak dari kenyataan pahit ini terutama bagi mereka yang bersentuhan langsung dengan politik praktis.

Logikanya, tidak akan ada politikus yang ingin partainya terlihat kentara cacat di hadapan rakyat karena hal itu secara pasti akan merugikan jatah partainya untuk melenggang ke parlemen.

Saya pernah mendapat cerita tentang pemaparan seorang ibu yang aktif di sebuah partai ketika diminta untuk memberikan pendidikan politik kepada anaknya yang baru berusia balita. Sang ibu berkata kepada anaknya, “Nak, nanti kalau udah besar, Kamu pilih partai yang ini ya!”

Begitulah pendidikan politik di lapangan. Pendidikan sarat doktrin, pendidikan sarat fanatik. Maka pada dasarnya antara kata pendidikan dan kata politik memang tidak bisa disatukan.

Pendidikan di dasarkan kepada sesuatu yang objektif sementara politik sangat sabjektif. Hampir sangat mustahil dijadikan satu.

Makanya, tidak heran jika terjadi “baku hantam” para suara rakyat di awal pelantikan mereka. Ini adalah bukti pendidikaan politik fanatik yang diberikan partai kepada kadernya.

Rasanya, para wakil rakyat ini harusnya dikarantina dulu untuk masuk bengkel akhlak sebelum dilantik. Memilukan dan memalukan.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/politik/14/10/02/ncs1h5-baru-dilantik-dpr-sudah-memalukan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s