Muhammad, Sang Guru Kehidupan

muhammadBarangkali, banyak di antara kita setelah melakukan shalat Tarawih bisa langsung pulang ke rumah. Sesampai di rumah bisa istirahat lalu menikmati makanan khas Ramadan seperti cendol atau juga bisa bermain bersama sanak keluarga.

Namun hal itu tidak bisa dinikmati oleh Muhammad, seorang pemuda belasan tahun yang harus memeras keringat demi mendapatkan sepotong roti.

Bagi dia kerja keras adalah kenikmatan dunia sekaligus akhirat. Kenikmatan dunia karena dia menikmati setiap tetes keringatnya sebagai perjuangan meneruskan hidup dan kenikmatan akhirat karena dia telah memanfaatkan waktunya untuk hal-hal yang berguna, sehingga dia punya jawaban jika ditanya Sang Pencita nantinya.

Meski dia harus melalui setiap malam dengan berjualan Ful (makanan khas Mesir yang terbuat dari kacang) dan makanan lainnya, namun senyumnya tetap ikhlas, ikhlas di atas ketegaran, tidak tersirat keluh kesah.

Meski dia tidak bisa menikmati hidup seperti pemuda sebayanya, namun dia tidak pernah menganggap hal itu adalah kekurangan dalam hidupnya. Dia tetap tegar seperti batu karang meski dihantam oleh ombak kehidupan yang begitu keras. Persis seperti kehidupan Nabi Muhammad Saw., yang penuh kisah heroik dan perjuangan untuk umatnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s