Pahamilah Masalah Sesuai dengan Konteksnya!

Pada suatu kali, Khalifah Umar bin Khattab pernah memukul seorang budak perempuan dengan Dirrahnya (ضَرَبَهَا بِالدِّرَّةِ) karena budak tersebut menyerupai wanita merdeka dengan memakai jilbab.

Dari sini, kita bisa pahami bahwa Umar adalah seorang khalifah yang bengis dan suka memukul perempuan meskipun hanya seorang budak. Apalagi dengan penggunaan kata “dharaba”, yang jika kita pahami dengan penggunaan “dharaba” sehari-hari, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Umar memukul budak tersebut dengan pukulan yang menyakitkan dan menghinakan.

Ya, beginilah kesimpulan yang kita dapatkan jika mengeluarkan suatu masalah dari konteksnya. Kesimpulan yang kita dapatkan sangat dangkal dan berbahaya. Bagaimana mungkin seorang Umar bin Khattab yang dicintai oleh masyarakatnya mau melakukan penghinaan seperti itu.

Namun, jika masalah ini kita masukkan ke dalam konteksnya, maka kita akan mendapatkan kesimpulan yang jauh berbeda.

Pada saat itu, banyak budak perempuan yang membuat diri mereka menyerupai perempuan merdeka dengan memakai jilbab. Tujuan mereka adalah untuk mengelabui dan membohongi masyarakat umum. Tentunya hal ini merupakan kebohongan publik.

Untuk menanamkan rasa kejujuran dalam lingkungan sosial, Umar mumukul budak tersebut dengan pukulan yang ringan dengan menggunakan Dirrahnya. Dirrah adalah sebuah tongkat kecil yang pendek. Dengan tongkat ini Umar memukul budak perempuan tersebut untuk melarang para budak menyerupai wanita merdeka, karena memang budak perempuan tidak diwajibkan untuk memakai jilbab.

Dengan memasukkan masalah ke dalam konteksnya, kita akan mendapatkan kesimpulan yang berbeda dan ini adalah bagian yang sulit. Kita bisa lihat kesimpulan pertama berbeda jauh dari kesimpulan kedua padahal dalilnya sama.

Maka dari itu, dalam masalah apapun, kita harus meletakkan suatu masalah sesuai dengan konteksnya. Apalagi untuk saat ini, di mana hal yang salah dan benar dicampuradukkan.

Seperti kata Syekh Syaltut, “Pahamilah segala hal itu dengan detail dan menyeluruh. Setelah itu baru ditarik kesimpulan. Dan inilah ciri-ciri Manhaj Azhari.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s