Politik untuk Mahasiswa, Edukasi atau Indoktrinasi?

indoktrinasiMahasiswa adalah elemen masyarakat yang paling berpengaruh terhadap kemajuan suatu negara. Jika ingin menghancurkan suatu negara, maka cukup hanya dengan “meracuni” golongan mahasiswa. Beberapa tahun yang akan datang negara ini akan mengalami gejala kejang-kejang, lemas dan pada akhirnya akan tewas. Sebaliknya, jika ingin membangun suatu negara maka berikanlah “makanan” yang sehat dan bergizi kepada mahasiswa.

Untuk menganalisa apa yang terjadi dengan negara kita, maka penulis akan menjelaskan secara panjang lebar dua golongan mahasiswa jika dilihat dari keikutsertaannya dalam sebuah partai politik, berikut dengan plus minus tiap golongan mahasiswa tersebut.

Dalam hal ini, ada dua golongan mahasiswa. Pertama, mereka adalah orang-orang yang tidak berpastisipasi dalam partai politik. Artinya mereka tidak ikut bersentuhan langsung dengan partai politik apapun, baik menjadi partisan ataupun simpatisan.

Kelompok ini juga bisa dibagi menjadi bagian. Bagian pertama adalah mereka yang apatis terhadap setiap peritiwa politik. Mahasiswa yang berpandangan seperti ini merasa nihil terhadap politik. Mereka beranggapan bahwa siapapun yang akan terpilih nantinya, tidak akan memberikan perubahan bagi negara. Semuanya akan sama saja.

Kelompok ini muncul akibat melihat carut-marut yang mereka saksikan di panggung politik. Mereka menganggap bahwa segala usaha yang dilakukan partai apapun untuk membawa Indonesia  ke arah yang lebih baik adalah omong doang. Dengan cara berpikir pragmatis seperti ini, mereka tidak mau ikut berpikir untuk memberikan solusi terhadap masalah bangsa. Kelompok ini lebih mementingkan diri pribadi atau lingkungan terdekatnya.

Sikap apatis tersebut juga muncul karena kurangnya sosialisasi baik dari lembaga penyelenggara pemilu maupun kampanye dari partai politik yang ada. Penyebab tersebut sangat berpengaruh terutama bagi pemilih yang berdomisili di luar negeri.

Bagian kedua adalah mahasiswa yang memang tidak mau bersentuhan langsung dalam dunia politik namun mereka memikirkan solusi terhadap masalah bangsa dan negara. Mahasiswa seperti ini adalah mereka yang memegang teguh idealisme sebagai seorang pelajar. Idealisme yang dilandaskan atas dasar logika objektif, kritis, merdeka, tidak mau diperbudak dan berpikir maju tanpa mau terseret oleh kepentingan politik yang cendrung sempit.

Mahasiswa seperti ini menyibukkan dirinya dengan hal yang bersifat edukatif, membangun karakter diri hingga nantinya siap menjadi seseorang  yang mempunyai spesialisasi di suatu bidang dan ikut berkontribusi kepada negaranya.

Untuk kelompok mahasiswa yang ikut dalam sebuah partai,  baik partisan ataupun simpatisan juga bisa dibagi menjadi dua bagian. Pertama, politikus mahasiswa yang profesional.

Mahasiswa seperti ini bisa menyeimbangkan mana yang kepentingan politik dan mana yang kepentingan pendidikan. Jika ada satu kegiatan dalam ruang lingkup kampus yang akan memancing permasalahan karena berbau politis, maka dia meninggalkan kegiatan tersebut. Jika dia diharuskan untuk memilih kepentingan bersama atau kepentingan politik, maka dia lebih mendahulukan maslahat bersama.

Misalkan di organisasi mahasiswa seperti PPMI, kekeluargaan atau bahkan lembaga penyelenggara pemilu. Mahasiswa kelompok ini, meski dia aktif di sebuah partai politik, dia bisa membedakan antara kepentingan politik dengan kepentingan bersama. Mereka hanya akan menggunakan fasilitas umum untuk kepentingan umum. Misalkan, mereka tidak menggunakan media sosial seperti Facebook untuk melakukan kampanye ataupun hal-hal yang menjurus kepada kepentingan politik lainnya.

Kelompok ini tidak mau menutup mata terhadap kesalahan-kesalahan yang ada dalam partainya. Mereka tidak akan ikut mengamini suatu hal yang bertentangan dengan idealismenya sebagai mahasiswa jika melihat sesuatu yang tidak benar dilakukan oleh partainya. Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki cacat partainya dan berani menanggung resiko jika nanti harus mengambil keputusan berbeda dengan partainya.

Mahasiswa seperti ini muncul akibat dari ajaran yang diberikan oleh para tokoh dalam partai tersebut. Maksudnya, para tokoh dalam partai tersebut berusaha untuk memberi pemahaman yang benar tanpa mengikis identitas mahasiswa para kadernya. Partai ini memberikan atmosfir yang lebih hidup dan mendukung agar para kadernya bisa berpikir dan menganalisa segala peristiwa tanpa harus didikte dari pimpinan partai.

Kelompok yang kedua adalah mereka yang fanatik terhadap parta politik tertentu. Ini adalah kelompok yang sangat berbahaya dan arbitrer. Tidak mau diajak dialog dan selalu mengklaim dirinya dan apapun yang dilakukan partainya adalah kebenaran mutlak. Pada kelanjutannya, kelompok ini menjadikan partainya layaknya sebuah agama yang selalu benar, lepas dari cacat dan kesalahan.

Dua kelompok mahasiswa terakhir muncul dari satu permasalahan yang sangat mendasar: apakah politik merupakan produk edukasi atau indoktrinasi?

Jika para politikus senior, atau petinggi sebuah partai politik mengajarkan sikap objektif, terbuka, mengajarkan cara berpikir yang benar, maka politikus mahasiswa akan menjadi sosok yang sangat berwibawa, bijak dan sangat dinantikan oleh Indonesia.

Sebaliknya, jika politik hanya dijadikan sarana untuk meraup suara sehingga partai memaksa untuk melepas baju objektivitas mahasiswa, mengikis jiwa kritis mahasiswa sehingga mau fanatik terhadap partainya, maka Indonesia hingga puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun yang akan datang tidak pernah berubah ke arah yang lebih baik.

Kelompok ini akan melakukan hal apapun demi menyebarluaskan dan memasyhurkan partainya tanpa melihat kondisi di sekitarnya. Terlebih lagi bagi partai yang mengaku berlandaskan Islam. Politikus mahasiswa yang ada dalam partai ini akan menyetir ayat Alquran dan segala hal yang berkaitan dengan agama untuk kepentingan politiknya tanpa menyadari bahwa prilakunya adalah bentuk menginjak dan menodai agama Islam.

Meski pada akhirnya para mahasiswa ini diingatkan oleh segala pihak, baik guru ataupun temannya, mereka tidak akan mampu berpikir logis untuk mengakui kesalahan yang mereka perbuat. Parahnya, kelompok ini pada kelanjutannya akan enggan diajak berdialog untuk mencari kebenaran.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Ada dua kemungkinan, bisa jadi karena mereka takut dikucilkan dalam komunitas partainya dan diberi sangsi sosial sehingga tetap melakukan hal-hal yang melanggar idealisme sebagai mahasiswa, atau karena mereka menganggap bahwa partainya memiliki kebenaran mutlak sehingga otak mereka menjadi tumpul dan tidak bisa berlaku kritis terhadap kesalahan yang dilakukan partainya. Dia akan selalu mencari pembenaran terhadap kesalahan yang dilakukan partainya, bukan mencari kebenaran.

Prilaku seperti ini akan merusak rasa cinta dan keharmonisan antar mahasiswa dalam lingkungan kampus. Kelompok ini muncul sebagai akibat dari indoktrinasi yang dilakukan oleh sebuah partai. Kelompok ini diberikan ajaran secara mendalam mengenai suatu pemahaman atau doktrin tertentu dengan melihat suatu kebenaran dari arah tertentu saja dengan sistem berpikir tanpa adanya kriktik. Pada akhirnya, partai seperti ini sedang melakukan proses cuci otak terhadap para kadernya dan mempersiapkan bom waktu bagi negaranya sebagaimana yang terjadi di Mesir saat ini.

Sebenarnya kelompok yang ikut ataupun tidak ikut dalam sebuah partai, keduanya sah-sah saja selama mereka mampu mempersiapkan dirinya untuk memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara.

Meski politikus mempunyai kelebihan dalam mengatur negara secara langsung jika menang, namun tetap saja tidak bisa bekerja tanpa bantuan kalangan profesional. Begitu juga dengan kalangan profesional, pasti juga membutuhkan kalangan politikus untuk membangun bangsa dan negara. Jadi semuanya akan baik jika dilakukan dengan cara yang baik. Sekarang terserah kita, politik mau dijadikan produk edukasi atau indoktrinasi?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s