Inilah Caraku Menghargai Karya Ulama

Tugas IPSCTulisan ini merupakan syarat untuk mengikuti kelas Advanced IPSC

Dulunya aku merasa sedikit iri dengan teman-teman yang punya kamera. Semua momen bisa diabadikan dengan sesuka hatinya. Sementara  aku, aku harus sabar meminta untuk difotokan. Itupun kalau yang punya kamera bersedia mengambil fotoku, kalau tidak ya… hanya menelan air ludah. Semenjak saat itu, aku punya keinginan kuat untuk memiliki sebuah kamera.

Tepat setelah aku tamat dari SLTA, doaku untuk memiliki sebuah kamera mulai terkabul. Waktu itu aku membeli sebuah kamera pocket  dengan SEMUA uang tabunganku. Meski aku beli bekas, kamera itu kurawat baik-baik, kubersihkan, dan kuletakkan di tempat yang paling aman (persis seperti ibu yang merawat bayinya tapi ngga ditimang-timang dan dikasih susu hehe). Wal hasil, belum 3 bulan kameranya wafat. Kenapa? Mungkin karena aku membelinya dalam kondisi bekas (mungkin juga sudah rusak) sehingga keinginanku untuk membawa kamera itu ke Mesir gagal (berarti bayiku hanya berumur 3 bulan :D).

Semenjak saat itu aku jaran (jaran itu bahasa Indonesianya  kapok) membeli barang elektronik seken terutama kamera. Dengan hati dan tekad yang kuat, kukepalkan tangan, kuhadapkan wajah dan tanganku kelangit, lalu kuberteriak dalam hati: Aku akan membeli kamera baru (lebay mode on :D).

Haha… sebenarnya tidak terlalu seperti itu. Aku hanya ingin memiliki sebuah kamera yang bagus dan tahan lama, bukan hanya bisa bertahan 3 bulan.

Setelah beribu-ribu hari menghirup udara Mesir (biar kedengaran lama ^_^) aku terus mencari tahu kamera bentuk apa yang harusnya kudapatkan. Hingga akhirnya aku pindah rumah dari daerah Darrasah ke daerah Nasr City dan sekamar dengan salah seorang anggota Indonesian Photgraphic Society in Cairo (IPSC). (Siapakah dia? Lihat tulisan selanjutnya:D) Dialah Bang Wahyu yang sekarang menjabat sebagai Ketua KMJ. (Mokasi banyak Bang hehe…)

Inilah mula aku mulai meraba-raba dunia fotografi. Dengan rasa penasaran yang sangat kuat dan rasa ingin tahu yang sangat hebat, aku bertanya kepadanya tentang kamera yang harusnya kubeli. Aku waktu itu bertanya tentang kamera poket tipe apa yang harusnya kubeli. Lalu ia menjawab, “Ndak usah bali kamera poket lai, labiah rancak bali kamera DSLR.” (Yang nggak paham berarti harus buka KBBM atau Kamus Besar Bahasa Minang. Silakan cari di toko buku terdekat, pasti ga nemu hehe…).

Oke, maksudnya adalah ia memintaku untuk tidak membeli kamera poket. Sebab, selain karena harganya mahal, hasil yang didapatkan pun menanggung. Ia menyarankanku membeli kamera DSLR (dulu kupahami yang penting kamera besar) tapi memang harus merogoh kocek sangat dalam (bahkan nyaris sobek hehe…). Semenjak  saat itu, aku semakin rajin bertanya kepadanya tentang kamera apa yang layaknya aku beli. (Layak dalam kamusku berarti: Harga Paling Murah dan Kualitas Melangit hehe…).

Aku semakin rajin mencari info tentang penjualan kamera. Sangking berhasratnya aku membuat sebuah grup di Facebook (tapi tolong jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia karena anggota grupnya cuma satu orang :D) yang berisi tentang pilihan kamera yang ingin kubeli.

Semua data kukumpulkan terutama dari grup Forum Jual Beli Masisir dan Pasar Mesir. Setiap ada yang mau jual kamera  DSLR langsung kuposting di grup pribadi itu. Bahkan semua postingan tentang penjualan kamera telah kutelusuri  di kedua grup FB tersebut hingga tidak ada yang tersisa.

Singkat kata, aku melihat sebuah komen dari seorang sosok misterius di grup Pasar Mesir. Ia menulis komen dibawah sebuah postingan yang menjual Kamera DSLR. Apa komennya? Singkat. Hanya dua kata: Best Recommended!

Semenjak saat itu aku mulai fokus mencari tahu kekurangang dan kelebihan yang di Best Recomended-kan oleh orang misterius itu. (Aku rasa pasti orang misterius ini lagi penasaran kalau baca tulisan ini. Apakah itu benar dirinya? Hehe….  Iya, benar. Sosok misterius itu ialah….eehhmmmm… Yth. Pak Ustaz Guru Shifu Master Amran Hamdani M. Ph <Master Photographer in Masisir> yang benar-benar ditakdirkan menjadi guru fotografiku hehe…).

Meski kutahu harganya lumayan  tidak murah tapi dengan restu dan pertolongan Bang Wahyu, serta ditopang dengan tekad yang kuat, kukepalkan tangan sambil menghadap langit Mesir lalu kuteriakkan (tetap dalam hati biar aman :D), “Setelah membeli kamera dan mendapatkan ilmunya dan aku sudah selesai kuliah di Mesir, maka kamera ini akan kujual untuk tiket pulang kampung.” Hehehe… Tapi itu tetap hanya rencana. Terjual atau tidak , hanya Allah yang tahu. 😀

Setelah membeli kamera tersebut, tiba-tiba ada postingan yang mampir di Wall FB ku kalau Pak Ustaz Guru Shifu Master Amran Hamdani M. Ph (keren titelnya :D)  sedang membuka kelas fotografi GRATIS. Tanpa pikir pendek, aku langsung mendaftarkan diri.

Di sinilah pintu gerbangku memasuki dunia fotografi.

Tepat tanggal 28 Maret 2013, aku bersama 8 pendekar The Kackers (itu nama tim kami) memulai belajar fotografi bersama-sama. Banyak ilmu yang kudapatkan dari IPSC. Ilmu apa saja yang kudapatkan? Ayo lanjutkan!

Kelas biasanya dimulai pada pukul 07.00 pagi. Kelas yang sangat berat apalagi harus diakhiri hingga sore atau bahkan malam. Telat? Jangan coba-coba. Kalau mau coba, silakan. Hukumannya tidak terlalu berat, hanya mentraktir makan teman sekelas saja. (Sebenarnya berat banget tuh :D). Karena takut telat, pernah aku berangkat dengan taksi (kuda putih) dan membayar ongkos lebih mahal dari biasanya. Namun begitu ongkosnya lebih murah dari pada harus mentraktir. Hehe… Itulah ilmu menjaga komitmen dan janji yang kudapatkan.

Selain itu, aku juga diajarkan bagaimana menjaga kerja tim. Ketika satu orang telat mengerjakan tugas, maka semua anggota mendapatkan hukuman. Meski aku merasa cukup rajin (pede dikit boleh lah.. :D), tapi kerajinan itu sama sekali tidak bermanfaat kalau hanya memikirkan diri sendiri karena toh kalau ada yang telat semua anggota The Kackers juga mendapat hukuman. Jadi, yang paling penting adalah saling mengingatkan.

Ada tiga tahapan yang harus dilalui oleh santri IPSC yaitu:

1. Kelas Basic

2. Kelas Human Interest dan Jurnalistik

3. Kelas Adcanved atau kelas pengajar (lanjutan)

Untuk lolos kelas Basic, setiap orang harus mengumpulkan 25 foto yang berbeda (Ya iyalah, masak sama :D). Sebelum foto itu disodorkan kepada Shifu, terlebih dahulu foto itu harus diedit; mengatur horizon, komposisi, POI, exposure, dimensi dan yang lainnya. Kalau kriteria tersebut belum terpenuhi, biasanya Pak Guru tidak lansung menyuruh: Ganti Fotonya! tapi cukup dengan berkata: Ada foto lain nggak?  (Intinya sama aja sih kalau kupikir :D).

Akhirnya setelah lolos 25 foto aku pikir sudah bisa tenang. Namun kenyataanya aku tetap belum bisa bernafas lega karena tiap orang WAJIB mengomen foto teman yang lainnya, semuanya.  Itu artinya setiap orang wajib komen 200 foto dalam jangka waktu yang ditentukan. Cukup sampai di sana? Belum!

Di akhir kelas basic (inilah ujian sesungguhnya) semua komen yang sudah diposting diperiksa. Total 1.800 komentar yang harus diperiksa dan dipertanggungjawabkan. Selama lebih dari +/- 26 jam (masa karantina non stop) akhirnya semua komentar dipertanggungjawabkan satu per satu. Mulai dari pukul 07.00 pagi hingga 09.00 pagi besok harinya yang kami bahas hanya masalah foto. Bosan? Tidak, sama sekali tidak. Karena aku dan kawan-kawan kawan setim yang lainnya diajarkan untuk menjaga komitmen, kekompakan tim, dan kerja keras, dan pada akhirnya kami semua lulus di kelas Basic.

Aku masih ingat status Facebook Pak Guru waktu itu (Senin, 15 Maret). Beliau bilang:

(Alhamdulillah setelah menjalani kurasi dan kritisi Teknis dan Post Processing selama +/- 26 jam yang dimulai kemarin hari Ahad pukul 7 Pagi sampai hari ini Senin, pukul 9 Pagi akhirnya Karantina Pertemuan Terakhir Kelas Basic IPSC selesai….

Kurasi dari 9 Pesrta yang mengumpulkan 225 foto basic, mengkoreksi dan mengkritisi 1800 komentar dan kritik yang membahas tentang teknis foto, dan post processing.

Selamat! meski dihadapi berbagai macam kendala, Para Santri berhasil menyelesaikan Intensive Basic Photography Course dengan Baik).

Oke, itu baru Basic. Selanjutnya kujelaskan mengenai kelas Human Interest (HI) dan KelasAdvanced.

Dalam kelas HI, tantangan yang kudapatkan berbeda. Kali ini aku dan kawan-kawan diharuskan untuk mengambil objek yang berkaitan dengan manusia. Untungnya, aku juga sering mengambil foto dalam beberapa kegiatan. Jadi bisa sedikit terbantu.

Di kelas HI, foto yang harus dikumpulkan sebanyak 100 buah; 50 hitam putih dan sisanya berwarna. Sangat banyak pastinya. Tapi yang kupikirkan itulah tantangan yang harus kulewati. Aku sudah jalan sejauh ini masak harus berhenti? (Sedikit bagian motivasinya :D)

Siangkat cerita, setelah 100 foto aku upload FB, memberi komentar masing-masing foto kawan yang jumlahnya sebanyak 400 buah lalu diunggah di fotografer.net dengan keharusan mendapat nilai minimal 37 poin, kelas HI pun terlewati. Semua halangan yang menghadang bisa diatasi meski itu tidak semudah membalik kertas buku. (Kalau membalik telapak tangan terlalu mainstream hehe…)

Selanjutnya kelas terakhir, kelas Advanced. Kelas ini hanya memakan waktu satu hari; dari jam 10.00 pagi hingga jam 23.30 malam. Di kelas ini aku dan kawan-kawan yang lolos kelas HI diajarkan  bagaimana seni memperindah foto. Selain itu kami juga diajarkan bagaimana mengambil foto untui membuat iklan yang nantinya foto itu bisa dijual. Jadi tepat pada tanggal 14 September 2013, semua kelas IPSC bisa kuselesaikan.

Itulah sekelumit sejarahku mempelajari di dunia fotografi bersama IPSC.

Selain itu,  ada beberapa hal menarik yang sayang kalau tidak aku sebutkan karena hal itu menjadi motivasi kuat mengapa aku benar-benar mau belajar fotografi.

“Jika Anda ingin mencari tahu dari mana sebuah benda berasal, maka carilah asal kata dari benda tersebut. ” Itulah kira-kira ungkapan yang ditujukan oleh Ahmad Shughairi dengan sorot matanya yang tajam. Dalam tayangan 13 menit 30 detik tersebut, ia berhasil membawaku masuk ke abad pertengahan, dimana Islam sedang menjadi tonggak peradaban dunia.

Di tayangan Khawater 6 itu ia mengungkapkan fakta menarik mengenai dari mana kamera berasal; apakah dari barat atau dari timur. Pria kelahiran Jeddah itu mengatakan bahwa kamera atau camera berasal dari bahasa Arab yaitu القمرة (al-Qumrah) yang berarti warna putih kehijau-hijauan. Al-Qumrah ditemukan oleh Al-Hazen atau Ibnu Haitsam, salah satu pakar optik yang lahir di Baghdad dan pindah ke Mesir untuk mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar.

Dalam sebuah makalah yang ditulis oleh Fauziah, mahasiswi UNJ Jakarta, ia menyebutkan bahwa Ibnu Haitsam secara otodidak mempelajari dengan serius berbagai macam ilmu hingga menguasai ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan dan fisika. Selanjutnya dengan sangat serius ia mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan cahaya dan optik dari para pendahulunya seperti Al-Kindi dan Ibnu Sahal  hingga berhasil menemukan prinsip kerja kamera yang dikenal dengan nama Camera Obscura. Itulah salah satu karya al-Haitsam yang paling monumental yang berhasil ia ungkap bersama Kamaludin al-Farisi. Penemuan yang sangat inspiratif itulah yang menjadi cikal bakal hadirnya kamera modern saat ini.

Secara ilmiah, itulah alasan terkuat mengapa aku mau menyelami dunia fotografi ini. Jadi sambil memperlajari tekhnik dan seninya aku juga mengatakan, “Inilah caraku menghargai karya ulama.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s