Al-Malakiyyin, Sebuah Desa Hijau di Jantung Mesir

 syekh athifDalam rangka memenuhi undangan Syekh Athif, pagi itu senin (22/7/2013) aku dan tujuh teman-teman dari Thawalib Parabek lainnya sudah berkumpul di Terminal Zahra’, Nasr City. Meski sedang puasa dan musim panas, langkah kami tidak surut untuk memenuhi udangan tersebut. Tepat pukul 09.30 CLT, kami perlahan mulai meninggalkan kota Kairo menuju rumah beliau yang bertempat di Al-Malakiyyin AL-Bahriyyah.

Syekh Athif adalah utusan dari Al-Azhar untuk mengajar di sekolahku, Madrasah Sumatera Thawalib Parabek, Bukittinggi, Sumbar. Baliau adalah guru besar Al-Azhar ketiga yang telah menyelesaikan tugasnya selama tiga tahun di Parabek. Setelah beberapa hari sampai di Mesir, beliau mengundang kami ke rumahnya yang terletak di daerah Al-Malakiyyin Al-Bahriyyah.

Al-Malakiyyin Al-Bahriyyah merupakan salah satu desa yang terletak di Provisni Syarqiyyah. Desa tersebut  berjarak sekitar 120 KM dari Kairo. Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani karena tanahnya yang subur, diairi dari sungai nil. Sekitar 20 KM bagian utara  Al-Malakiyyin terdapat kota bernama Tanis (صان الحجر) yang dulunya merupakan pusat perpolitikan Mesir Kuno .Kota Tanis merupakan tempat lahir dan tumbuhnya Nabi Musa sekaligus kota yang paling sedikit jejak peradabannya karena dihancurkan oleh Allah atas doa Nabi Musa As.

Sebelum langsung ke Al-Malakiyyin, terlebih dahulu kami memasuki kota Zaqazig, ibu kota Provinsi Syarqiyyah.  Selanjutnya kami terus ke Faqus dan langsung menuju ke rumah Syekh.

Di perjalanan memasuki kota Zaqaziq, mataku yang menembus kaca mobil sebelah kiri jatuh di atas sebuah poster yang tertempel di tiang lsitrik. Poster  yang masih kokoh tapi tampak agak lusuh itu bertuliskan مرسي رئيسا لمصر , Mursi presiden Mesir. Aku yakin, poster tersebut merupakan kampanye dari pemilihan presiden pertama Mesir setelah tumbangnya Rezim Mubarak. Di saat yang sama, ku arahkan pandanganku ke tembok sebelah kanan. Di sana tertulis kalimat-kalimat yang menunjukkan  penentangan terhadap Mursi. Dalam hati kuberkata, “Ya, begitulah politik. Pasti banyak pro dan kontra. Tatkala poster Mursi yang yang semenjak setahun lalu masih tertempel kokoh di tiang listrik, saat ini posisinya pasca pelengseran 3 juli kemarin tidak diketahui masyarakat. Sementara itu, gelombang demonstrasi dari pendukung  dan penentang Mursi terus berjalan dan terkadang terjadi bentrokan. Semoga saja Mesir  tidak menjadi Suriah yang  kedua (akibat perang saudara).”

Dari Zaqaziq, kami melanjutkan perjalanan ke Faqus. Di sepanjang perjalanan aku menyaksikan pemandangan alam yang sangat indah. Warna hijau sawah yang merekah, ladang jagung  yang juga hijau hingga ke ujung horizon, hampir semuanya hijau. Ya, saat itu mataku benar-benar merasa sangat fresh dengan indahnya warna hijau yang memenuhi setengah penglihatanku. Barangkali itulah sebabnya kenapa  Nabi Muhammad Juga menyukai warna hijau; karena warnanya yang alami dan sangat sejuk dipandang mata.

Sesampai di terminal Faqus, kami dihampiri oleh banyak orang. Tiap orang menawarkan kami mobilnya masing-masing untuk melanjutkan perjalanan.  Kadang ada juga yang menawarkan dengan nada paksaan. Siang itu meski tidak ada barangku yang dirampok, aku merasa seperti masuk sarang penyamun. Semuanya berusaha menerkamku.

Akhirnya kami memilih sebuah mobil yang sangat aneh, bagiku. Mobil tersebut adalah mobil Los Bak atau Pick Up atau yang sering disebut juga dengan mobil Bak. Sesuai dengan namanya, mobil tersebut adalah mobil yang ada baknya, yang biasanya dipakai untuk mengangkut barang-barang. Mobil tersebut diberi atap dari seng yang bagiku sangat rendah hingga  kepalaku sempat mengalami bentrokan fisik dengan atap tersebut saat membetulkan posisi duduk. Selain aneh, kendaraan tersebut juga unik karena aku belum pernah melihatnya di tempat lain. Uniknya lagi, mobil tersebut dijadikan angkutan massal oleh penduduk setenpat yang berarti jumlahnya cukup banyak.

Setelah empat jam tunggang-tunggik di perjalanan, kami sampai di desa Syekh Athif di Al-Malakiyyin Al-Bahriyyah. Selanjutnya kami langsung menuju ke rumahnya.

***
Di beranda rumah..

“Apa tindakan masyarakat Parabek ketika Anda tinggalkan, Syekh,” tanyaku pada Syekh Athif.

“Mereka menangis  sedih. Saat saya masuk ke mobil, banyak warga Parabek yang berdiri melepeas kepergian saya dan mereka banyak yang menangis,” terangnya. Syekh Athif juga menambahkan bahwa Ustaz Ilham pernah ke menemui Dubes Mesir agar menambah kesempatan 3 tahun lagi untuk Sykeh Athif tapi Dubes tidak bisa mengamini permintaan tersebut karena waktu yang diberikan hanya 3 tahun saja.

Syekh Athif juga menekankan bahwa beliau sudah meminta kepada Dubes untuk mencari penggantinya di Parabek. “Saya sudah menemui Pak Dubes untuk meminta agar mencari pengganti saya untuk tinggal di Parabek,” tutur ayah dari 3 anak ini.

Selain itu Syekh Athif juga memberi hadiah beasiswa untuk siswa Parabek yang ke Mesir. “Saya sudah mendatangi Dubes agar memberikan satu kursi beasiswa kepada salah seoarang siswa Parabek. Nantinya siswa tersebut akan didanai oleh Al-Azhar dan diberi uang saku dan diberi tempat tinggal di Madinatul Bu’us,” terang Syekh Athif.

“Alhamdulillah, terimakasih banyak, Syekh,” tuturku.

Syekh Athif yang hanya 3 tahun di Indonesia mengaku bahwa dirinya sudah fasih berbahasa Indonesia. Beliau pernah pergi belanja sendiri ke pasar tanpa didampingi siapapun. “Saya bernah ke Badang Luar untuk belanja sebelum ke Mesir,” tuturnya yang selalu mengubah huruf P menjadi B. “Hahaha…”Mendengar itu kami semua takjub dan tertawa. Beliau menambahkan bahwa beberapa hari sebelum berangkat ke Mesir beliau juga sempat memberikan tausiah di Masjid dengan berbahasa Indonesia.

Syekh Athif juga mengaku sesampai di Mesir beliau menjadi Wakil Ma’had di Malakiyyin. Ma’had tersebut adalah kepunyaan Al-Azhar.

“Allahu Akbar Allahu Akbar…”

Suara azan Ashar menghentikan canda tawa kami dengan Syekh Athif. Kami beranjak menuju sebuah masjid yang tidak jauh dari rumahnya untuk menunaikan shalat Ashar berjamaah.

Selepas shalat, Ibrahim, salah seoarang murid Syekh Athif melantunkan bacaan Alquran di depan jamaah. Mendengar suaranya yag indah, rasa penatku lenyap seketika. Rasanya aku menyatu dengan gelombang irama bacaannya. Sangat indah.

Selanjutnya Ibrahim menawarkan kami untuk melantunkan Alquran. Raihan pun turun tangan dan semua jamaah terkesima mendengar suaranya yang indah.

“Allah…Allah…” kata orang Mesir lepada Raihan.

Wallahi jamil wallahAllah yaftah ‘alaik,” sambung orang Mesir lainnya.

Selanjutnya mikforofon berpindah ke tangan Syekh Athif.

“Selamat datang saya ucapkan kepada tamu-tamu istimewa dari Indonesia di Malakiyyin Al-Bahriyyah. Semoga kalian semua selalu diberi Allah taufiq dan kesuksesan,” tutur Syekh Athif. Kemudian beliau manambahkan bahwa warga desa sangat gembira atas kedatangan kami.

“Orang Indonesia memiliki akhlak yang mulia, baik hati, dan rasa toleransi. Mereka telah memuliakan saya selama tiga tahun sewaktu menetap di Parabek.”

Kemudian beliau melanjutkan tausiahnya kepada seluruh jamaah yang hadir pada sore itu. Beliau menekankan pentingnya akhlak mulia bahkan di waktu marah sekalipun. Semua jamaah tenggelam dalam kata-kata yang diucapkan oleh syekh yang terkenal dikampungnya dengan nama Syekh Hassan.

Selanjutnya Syekh Athif membawa kami ke area persawahan yang hijau. Persis seperti di Parabek, hamparan sawah yang hijau membentang sejauh mata memandang. Di ujung sana kulihat sebuah menara masjid berdiri kokoh. Persis seperti pemandangan di belakang asrama putra Parabek yang juga ada menara masjid Al-Falah Jambu Aia. Hanya saja tidak ada gunung Merapi dan Singgalang.

Kami terus mengitari pematang sawah. Anak-anak Al-Malakiyyin juga turut mengikuti langkah kami mengitari area persawahan tersebut. “Ini sawah milik Syekh,” kata adik beliau. Rupanya Syekh Athif juga memiliki sawah yang ditumbuhi padi yang masih hijau.

 “Ahwazy, ini adalah Maikanah. Dengan alat ini air dari sungai Nil diangkat untuk mengairi area persawahan,” terang Syekh Athif. Maikanah adalah sebuah mesin air seperti Sanio yang gunakan untuk mengangkat air dari sungai nil. Air tersebut lalu ditampung dalam wadah dan dialirkan ke sawah-sawah yang kehausan. Berbeda sekali dengan di tempatku di Jambu Aia. Para petani tidak perlu memakai mesin tapi cukup hanya membendung air yang mengalir di banda dan otomatis airnya akan tertahan dan naik masuk ke dalam sawah.

***
“Allahu akbar..Allahu akbar…” Suara azan maghrib berkumandang. Kami disuguhi takjil juz mangga yang dicampur dengan pepaya dingin. Segar!

Kemudian kami shalat berjamaah di Masjid dan kembali ke rumah untuk ‘acara inti’ untuk menyantap makanan Mesir. “Piring ini sengaja saya letakkan satu per satu karena adat kalian makan seperti ini,” tutur Syekh Athif sambil memandang kepada istrinya. Baliau melanjutkan bahwa orang Mesir tidak makan seperti orang Indonesia yang harus pakai piring. Biasanya mereka menjadikan ‘Isy, sebuah roti gandum berbentuk bulat dan tipis untuk dijadikan alat makan. ‘Isy tersebut ditarik dengan kedua tangan seperti merobek kertas. Lalu potongan ‘Isy tersebut digunakan untuk mengambil lauk dan langsung dimakan bersama.

Kami dihidangi mahsyi, daging bebek yang sangat besar untuk ukuran orang Indonesia, nasi yang dimasak pakai mie, kentang, dan beberapa makanan lainnya. Saat itu, yang dipikiranku adalah memulai strategi makan yang benar karena kalau sampai salah strategi, makanan yang kuambil tidak akan habis, sementara masih banyak makanan lainnya yang kuyakin akan diturunkan ke hadapan kami.

“Ini untukmu, Ahwazy,” terang Syekh Athif sambil memasukkan nasikepiring.

“Syukran, Syekh,”  tuturku sambil merebut piring yang sudah berisi sedikit nasi tersebut dari tangan baliau dengan lembut.

Kenapa kurebut? Sebab, kalau tidak kurebut Syekh pasti akan mengisi nasi yang banyak dan aku akan salah strategi. Bisa-bisa aku akan KO duluan sebelum nasi dipiringku habis.

Teman-temanku yang lain kelihatan kewalahan menghabiskan makanan mereka. Ada  yang berhenti sejenak mengambil nafas dan kembali menyuap. Melihat tingkah kami, Syekh Athif berkata, “Coba goyang-goyangkan perut kalian agar nasinya turun dan bisa diiisi kembali.” Suara gelak pun pecah saat itu. Semua orang tertawa mendengar ucapan beliau. Aku pun langsung berdiri dan menggoyang-goyangkan perut biar nasinya capat turun.

Setelah selesai makan, syekh menurunkan anggur hijau. Karena strategiku tepat, aku masih bisa memakan makanan yang dihidangkan meski tidak terlalu banyak. Aku teringat kisah seoarang ulama yang datang ke rumah gurunya. Ketika dihidangkan makanan, ia menghabiskan seluruh makanan tersebut untuk mendapat berkah dari gurunya. Ya, itu pula lah yang  kulakukan, untuk mendapat berkah dari makanan Syekh Athif.

 ***
Setelah shalat tarawih, Syekh mengajak kami memakan es krim di sebuah warung yang terletak tidak jauh dari rumah. Di perjalanan menuju warung tersebut, kami diringi oleh puluhan anak-anak kecil. Setiap melewati keramaian, semua mata warga menatap tajam ke arah kami. Sambil melambaikan tangan kepada mereka, kuucapkan, “Assalamualaiku ya Gama’ah...!” Mereka menjawab salamku sambil tersenyum. “Ayo, singgahlah dulu sebentar,” kata salah seoarang warga dari pintu rumahnya. “Terima kasih, Pak. Semoga di lain waktu ada kesempatan lagi,” jawabku.

Kami terus diarak oleh orang kampung hingga sampai di tempat menjual es krim. Lalu kami diberikan sepotong es krim yang sangat nikmat. Ini persis seperti kunjunganku tahun lalu. Baliau juga membawaku ke tempat ini untuk makan es krim.

Selesai dengan es krim, Syekh bertanya, “Apakah kamu capek, Ahwazy?”

Kutatap jam tanganku. Saat itu menunjukkan pukul 23.00 CLT. Sebenarnya aku sedikit capek, tapi karena besok pagi harus pulang jadi kuusir rasa penatku sejauh mungkin. “Nggak, Syekh. Saya masih kuat. Kita mau kemana lagi Syekh?”

“Kita sekarang menuju ke rumah adik perempuan saya.”

Di bawah siraman cahaya rembulan, kami berjalan menuju rumah adik beliau yang letaknya sangat dekat dengan rumah beliau. Sesampai di sana, kami kembali disugihi makanan. Di rumah tersebut juga banyak anak kecil. Ada Ahmad, Muhammad, Islam, Ahmad (lagi), Ahmad (lagi), dan Ayah, seorang gadis cilik yang cantik. Yang paling unik dari nama itu adalah Budi, sebuah nama yang sangat Indonesia. “Ya Budi..Ya Budi..Ya Budi,” sapaku padanya berkali-kali. Dia tersenyum dan mendekat kepadaku. Lalu kami  semua hanyut dalam canda tawa malam itu.

“Kenapa namamu Budi,” tanyaku padanya. Aku ingat, tahun lalu aku pernah bertemu dengannya. Wajahnya masih lucu seperti dulu selucu namanya. Dia hanya senyum-senyum dan menjawab dengan perkataan yang tidak jelas bagiku.

Lalu ibunya datang, “Kami panggil dia Budi untuk mencandainya. Sekarang namanya Ahmad,” kata ibunya. Aku hanya tertawa mendengar ucapan tersebut. “Namamu Budi atau Ahmad?” tanyaku kembali seraya mengarahkan mataku pada Ahmad. Lagi, ia hanya mengekpresikan senyuman lucunya. Aku, ibunya dan semua yang ada di sana hanya tergelak melihat ekspresinya.

Mendekati pukul 24.00 Clt, kami pamit pulang ke rumah bersama Syekh Athif. Aku mengucapkan terimaksih atas undangan dan hidangannya. “Syukran ya Mamma, semoga nanti kami bisa lagi berkunjung ke sini” ucapku sambil melempar senyum terbaikku pada adik Syekh tersebut.

Selanjutnya kami pulang dan istirahat sekitar 2 jam-an sampai sebelum azan Subuh menyapa untuk sahur.

Setelah tidur sebentar, kami sahur bersama. Aku dan teman-teman makan nasi sementara Syekh dan keluarganya makan ‘Isy, Jubnah, dan Laban.

 Syekh menuturkan, “Kami orang Mesir tidak makan nasi di waktu sahur beda dengan kalian yang selalu makan nasi.”

“Haha… benar sekali, Syekh. Terimakasih atas nasinya,” tuturku sambil tertawa.

Setelah itu kami shalat Subuh dan pulang kembali ke Kairo bersama Syekh Athif karena baliau juga punya acara hari itu di Kairo.

Foto-foto: http://on.fb.me/18GN1dL

Juli, 2012

Di Bawah Siraman Sinar Rembulan.

Bawabah 3, Nasr City, Kairo, Mesir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s