Memburu Cahaya Tari Sufi

Tari Sufi Mesir“Bang, kita ketemuan di depan Khairuz Zaman ya,” tutur Ariq dengan nafas tersengal-sengal. Ia berjalan cepat menuju lokasi janjian kami.

“Oke. Aku turun dari rumah sekarang,” jawabku membalas tanyanya.

Setengah jam lagi azan berbuka puasa akan berkumandang. Lagi, kali ini aku tidak bisa menikmati buka puasa di rumah. Pasalnya, kali ini aku dan teman-teman  Indonesian Photoghrapic Society in Cairo (IPSC) akan memburu dan menangkap cahaya tari sufi yang dibawakan oleh El Ghouri Tannoura Dance Group di Wikalet El Ghouri, Husein. Kamera pun kutenteng ke jalan.

Tari sufi merupakan karya seorang penyair sufi, Jalaludin Rumi. Tari ini merupakan bentuk ekspresi dari rasa cinta, kasih dan sayang seorang hamba kepada Allah Swt dan kepada Nabi Muhammad saw.

Para penari sufi yang disebut dengan Darwis Berputar ini memutar tubuhnya berlawanan dengan arah  jarum jam. Putaran ini, menurut Para Darwis merupakan bentuk penyatuan diri dengan Sang Pencipta. Mereka menari dengan berputar, semakin lama putarannya semakin cepat dan para penari akan mengalami ekstase. Kalangan sufi memahami keadaan ekstase tersebut sebagai tingkat pencapaian perasaan penyatuan dengan Tuhan. Gerakan tari yang tercipta diyakini bukan dari diri si penari tetapi berasal dari kelembutan jiwa yang berserah diri pada Sang Pencipta. Karena fenomenalnya tarian ini, tahun 2005 lalu, UNESCO mematenkan upacara dari Turki ini sebagai Karya Agung Warisan Lisan dan Takbenda Kemanusiaan.

***

Sejurus kemudian aku dan Ariq bertemu di depan Khairuz Zaman.

“Bang, kita beli ta’jil dulu ya?”

“Oke, boleh.”

Aku sendiri sebenarnya tidak ambil pusing mau buka puasa pakai apa. Sebab biasanya ada orang yang membagikan kurma dan minuman di tepi jalan. Makanan tersebut  diberikan kepada semua orang yang lalu lalang, termasuk jika ada mobil berhenti. Bahkan kalau tidak berhenti pun, makanan tersebut akan dilempar ke dalam mobil. Semuanya akan mendapat bagian.

Dan dugaanku benar. Beberapa detik sebelum azan maghrib, mobil yang kutumpangi berhenti di tepi jalan dan mengambil makanan yang akan dibagikan. Aku mendapat beberapa buah kurma dan jus buah.

***

Aku dan para punggawa IPSC lainnya sudah menunggu di depan El-Ghouri. Tidak hanya kami, puluhan mahasiswa Indonesia lainnya juga tutur hadir menyaksikan aksi para Darwis ini. Kelihatan sekali wajah penasaran mereka tak tertahan lagi untuk menyaksikan tarian sufi pada malam itu (15/7).

Awalnya acara tersebut diberitakan gratis. Namun, tatkala kulihat di depan pintu masuknya tertulis bahwa selain orang mesir harus bayar 30 Le (Rp. 45.ooo). Setelah diusahakan melakukan ‘diplomasi’ sana sini, kami pun luluh dan terpaksa dengan sangat ikhlas membayar 30 Le.

***

It’s show time. Para Darwis mulai memainkan aksinya. Suara musik mulai menggelegar memenuhi ruangan. Penonton juga ikut riuh gembira melemparkan tepuk tangan melihat aksi mereka.

Aku belum bisa fokus dengan suasana malam itu. Para Darwis (cacing red.) dalam perutku juga mulai berputar-putar karena baru diberi kurma dan minuman. Mereka belum mendapat jatah makan berat. Ya, logika tanpa logistik anarkis. Kusirami lagi para Darwisku tersebut dengan seteguk air dingin. Lumayan…

Ini kali pertamaku hunting di sini. Katanya lokasi seperti ini menguntungkan lensa yang kupunya, fixed 50 mm karena kualitas cahaya yang rendah. Walhasil, ternyata benar. Lensa fixed memang bisa menjadi senjataku malam itu  meski tidak bisa mendapatkan objek foto yang luas (wide).

Malam itu aku bertarung antara mengejar momen dan menyeimbangkan antara ISO, Shutter Speed, dan Diafragma. Kalau dari segi teori memang tidak susah. Namun ketika praktek, aku mengalami banyak tantangan seperti pencahayaan yang berubah-ubah, kadang terang kadang redup. Kalang kabut aku malam itu. Aku harus memutar gir Shutter Speed, menyeimbangkan ISO dan juga diafragma di saat yang sama. Belum lagi pertarunganku dengan momentum. Satu detik terlambat, momentumnya hilang dan tidak akan pernah kembali.

Pukul 23.00 CLT, pertunjukan selesai. Para Darwis turun dari pentas dan aku manfaatkan untuk sesi foto bersama. Lapar dan capekku terbayar dengan indahnya show pada malam itu. Petualangan memburu cahaya tari sufi ditutup dengan minum  asob di depan kampus Al-Azhar bersama-sama.

Video

Galeri Foto

Iklan

3 thoughts on “Memburu Cahaya Tari Sufi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s