Semesta Menulis Berjuang (Bag. 1)


semesta menulis
Semua berawal dari mimpi. Setahun yang lalu,  Agus,  Sifrul, Fahmi, Maulani, Dulmajid, Dana, dan aku berkeinginan besar untuk mendatangkan penulis-penulis besar ke Kairo agar bisa berbagi ilmu dengan masisir. Memang itu hanya pembicaran ringan yang belum jelas ujung pangkalnya. Mau dimulai dari mana belu m kentara. Ada rencana dulu itu untuk bekerja sama dengan teman-teman Malaysia untuk mendatangkan para penulis tersebut karena mengundang tokoh berarti harus menyediakan dana yang sangat besar terutama untuk transportasi.

Seiring berjalannya waktu,  mulai terlihat titik terang. Kami mulai meniti titik-titik terang itu satu persatu hingga bisa lebih terang. Berbagai kemungkinan dilakukan, hingga kami mendapat kata bulat bahwa acara yang akan diangkat adalah Semesta Menulis di ACC dengan mendatangkan penulis terkenal seperti Pipiet Senja, RRI, dan para penulis besar lainnya. Lagi, itu hanya mimpi tanpa tahu dari mana dananya.

Mendekati ujian kami terus bergerak cepat untuk memastikan bahwa acara bisa diangkat. Semua persiapan dilakukan seperti persiapan panitia dan audiensi dengan KBRI Kairo.

Di masa ujian, kami tak henti-hentinya bertarung  prioritas antara ganasnya diktat ujian dan mendatangkan tokoh besar. Yang aku pikirkan adalah bagaimana keduanya bisa jalan dengan baik. Tidak jarang habis ujian aku dan Agus membicarakan persiapan semesta menulis di saat teman-teman yang lainnya sudah bisa bernafas melampaui ujian.

Persiapan demi persiapan yang dilakukan untuk memuliakan tamu  tersebut terus dilanjutkan. Semua proposal disebarkan karena belum ada kejelasan dana dari mana.

Datanglah tanggal 2 Juli. Narasumber yang kami undang sudah bersedia untuk datang ke Mesir sebanyak tujuh orang; Pipiet Senja, Irwan Kelana, Sastri Bakry dan empat orang dari RRI yaitu  Zulhaqqi Hafiz, Anhar, Nismah dan Eddy Sukmana.

Sebelumnya, kami juga sudah membentuk panitia untuk mensukseskan acara Semesta Menulis tersebut. Semuanya bergerak semaksimal mungkin untuk mengangkat acara itu meski terkendala banyak faktor.

Masih ditanggal 2 Juli, proposal yang kami masukkan ke Indomie mendapat angin segar. Indomie memberikan bantuan berupa 25 kardus Indomie senilai lebih dari 1000 le (Rp. 1.500.000) dan juga bantuan transportasi.

Melihat Indomie yang sangat banyak itu, akhirnya aku dan panitia lainnya berusaha keras bagaimana bungkusan-bungkusan yang harganya lebih dari 1.000 le tersebut bisa terjual habis sehingga acara Semesta Menulis bisa diangkat. Akhirnya malam itu kami berjalan menjual Indomie Door to Door ke rumah masisir sekitar Hay Asyir, Nasr City. Meski terasa capek, namun aku paham ini semua akan membuahkan hasil.

Barangkali para panitia yang menjajakan Indomie tersebut dibilang bodoh oleh sebagian kalangan, tapi bagi kami ini adalah salah satu cara bagaimana kami bisa memuliakan tamu. Pasalnya aku paham, dana yang dikeluarkan oleh pembicara yang kami undang, baik dari kantong pribadi atau pun institusi mereka sangat besar. Maka sekarang tugas kami untuk melayani mereka semampu yang kami bisa.

Syukurnya, hanya beberapa jam sebagian besra Indomie yang kami jajakan habis seketika. Bukan apa-apa, karena Indomie tersebut kami jual dibawah harga pasaran. Malam terus menyingkap tirainya.  Di ujung sana  sang rembulan barangkali hanya tersenyum melihat tingkah ‘gila’ kami, para panitia.

Saat itu dan masih berlanjut sampai sekarang, kondisi perpolitikan Mesir semakin memanas. Aku dapat informasi bahwa Mahfud Md yang diundang oleh PPMI Mesir gagal berangkat ke Mesir melihat kondisi yang tidak memungkinkan. Lalu bagaimana dengan pembicara yang kami, Semesta Menulis  undang? Akankah mereka juga membatalkannya? Aku mulai ragu. Tapi belum ada kabar yang  kuterima mengenai pembatalan tiket mereka. Semoga mereke sampai di Kairo dengan selamat, aku membatin.

Pukul 03.30 CLT pesawat yang ditumpangi Irwan Kelana dan Pipiet Senja dijadwalkan akan landing. Meski capek berkeliling rumah masisir, dari lantai 5 satu apartemen ke lantai 6 apartemen lainnya, namun aku ingin menyambut mereka di Bandara Cairo dengan wajah penuh semangat dan ceria.

Mendekati pukul 00.oo aku kembali pulang ke rumah dengan Sifrul. Di Tahrir dan Rab’ah sana kabarnya para demonstran semakin banyak. Tidak hanya itu, para maling pun tidak meninggalkan kesempatan tersebut untuk meneror masisir; baik merampok, jambret ataupun tindak kriminal lainnya. Kuberanikan diri  melangkahkan kaki berjalan bersama Sifrul menuju rumah.

Sejurus kemudian, setelah mengambil kamera,  aku dan Sifrul kembali berjalan menuju posko panitia di daerah Mutsallas, Nasr City. Waktu itu pukul 01.00 dini hari. Keadaan sekitarku semakin sepi dan terasa agak angker. Lampu jalanan yang redup, bahkan ada yang hidup mati dan itu menyempurnakan rasa takutku pada malam itu.

Namun apa boleh buat, satu jam lagi aku harus ke bandara. Tidak ada waktu lagi untuk merengek kepada rumput yang bergoyang. Apapun yang terjadi, kuserahkan kepada yang di atas. Allahul Musta’an.

Sambil menenteng sebuah kamera DSLR, aku dan Sifrul berjalan sambil pasang mata elang. Kuperhatikan kiri kanan terus melangkahkan kaki. Kupegang kameraku sangat erat.

Selanjutnya aku dan Sifrul menunggu mobil menuju Mutsallas. Beberapa mobil yang kustop tidak mau berhenti. Mau naik taksi rasanya agak berat karena uangku saat itu sudah minus, sebagina terpakai  untuk acara. Syukurlah ada sebuah mobil tramko yang mau mengamini permintaanku.

Dari luar terlihat beberapa pemuda didalam tramko yang cukup kekar sambil berteriak “Pergilah…Pergilah… Mursi” sambil memegang bendera Mesir. Aku yakin pasti pemuda itu adalah salah satu demonstran anti-mursi yang barangkali baru pulang dari Bundaran Tahrir.

Di dalam Tramko, akupun diajak bicara oleh pemuda itu. “Bagaimana tanggapanmu terhadap Mursi,” tanya pemuda berbaju merah tersebut sambil tertawa menghadap ke teman-temannya. “Aku tidak tahu. Kalian lebih paham mengenai Mursi,” tegasku. Ia dan teman-temannya hanya tertawa. Perasaanku mulai tidak enak. Jam 01.20 dini hari, sambil membawa kamera. Aku takut. Apakah mereka akan ‘memangsa’ ku? Kembali kuberdoa kepada Allah.

Ia terus mengajak bicara namun aku pura-pura tidak paham. Akhirnya ia memintaku menerikkan “Irhal…Irhal…!” pergilah..pergilah… Aku terus pura-pura tidak paham. Namun aku mulai merasa risih dan tidak aman. Terpaksa aku menerima ajakan mereka untuk meneriakkan ‘Irhal’ meski berat.

Untungnya jarak dari Bawabah 3 dan Mutsallas tidak begitu jauh. Sesampainya di tempat tujuan aku berhenti dan mengucapkan salam kepada mereka. Belum selesai sampai di sana, selanjutnya aku kembali menyerang rasa takutku untuk berjalan le posko.

Posko panitia, sebagaimana yang kukatakan sebelumnya, terletak di kawasan Mutsallas, Nasr City. Posko tersebut tidak terletak di tepi jalan raya, namun agak ke dalam. Jalan menuju ke sana pun sebagian besar gelap karena tidak ada lampu jalanan. Hanya ada cahaya remang-remang yang merambat dari cela-cela rumah warga. Untuk diketahui juga, daerah tersebut juga merupakan sarang anjing–karena banyak anjing berkeliaran–dan juga sarang perampok. Di salah satu rumah dekat posko tersebut, dulunya pernah dibakar polisi untuk memaksa agar perampok dan pelaku kriminal lainnya keluar dari rumahnya.

Ya, itulah sekarang medan yang akan aku dan Sifrul takhlukan. Sambil pasang mata srigala, aku berjalan cepat menuju posko dan setelah itu langsung lagi ke tepi jalan raya untuk menunggu jemputan ke bandara. Syukurlah semuanya aman saja.

Sayangnya, belakangan aku mendapat kabar bahwa ada teman dirampok di daerah tempat aku menunggu jemputan ke bandara. Katanya kejadian tersebut terjadi pada jam 00.30 dini hari. Itu artinya saat aku berjalan dari rumah, temanku itu dirampok dan Hp nya pun melayang.

Selanjutnya kamipun bertolak ke bandara. Akhirnya kami bisa bertatap muka dengan Irwan Kelana dan juga Pipiet Senja. Dan penat pun terobati.

Kedatangan

Siangnya aku kembali menampakkan diri di Bandara. Pasalnya, Sastry Bakry, salah satu pembicara yang kami undang akan landing di Kairo pukul 16.15 CLT. Saat itu, demonstrasi Pro dan Anti Mursi semakin memanas. Kabar yang kudengar sudah ada korban jiwa. Untungnya, demo tersebut tidak meluber sampai ke bandara.

Deadline yang diberikan kepada Mursi untuk mengatasi guncangan politik Mesir adalah pukul 17.00 CLT, beberapa menit lagi. Orang-orang Mesir di bandara sibuk memerhatikan televisi untuk mengetahui berita terkini. Aku hanya sibuk menerobos pandangan ke dalam ruang bandara. Tak ada waktu untuk fokus memeperhatikan politik Mesir meski kuterus berdoa agar Allah memberikan yang terbaik kepada Mesir.

Aku semakin cemas. Sastri Bakry belum juga kelihatan, padahal sudah satu jam yang lalu ia dijadwalkan landing. Apakah ia membatalkan keberangkatan ke Kairo seerti Mahfud MD? Oh… AKu tak tahu.

Tiba-tiba suara bandara mulai gaduh. Orang mesir berteriak keras sambil melihat terelvisi. Sebagian mereka berputar mengelilingi ruang bandara. Kutanya salah seorang dari mereka, “Fi eh ya, Basya?.” Ada apa bung? “Mursi yanzil (Mursi sudah turun),” pungkasnya dengan sangat bahagia. Aku kaget. Apakag benar demikian?

Selang beberapa menit, ada seorang perempuan berwajah Asia Tenggara keluar dari bandara. “Ibu Sastri?” tanyaku. “Iya.” “Kami dari semesta menulis, Bu. Silakan ikutkami!”

Akhirnya pembicra kami yang ketiga bisa keluar bandara. Alhamdulillah.

Di saat bertolak meninggalkan bandara, kulihat banyak mobil tentara Mesir berjalan berlawanan arah dengan kami. Kabarnya mereka masuk ke bandara karena Mursi dicekal untuk terbang ke luar negeri.

Sasti Bakry

Besoknya, rombongan Radio Republik Indonesia yang terdiri dari Anhar, Zulhaqqi, Nismah Azhari, dan Eddi Sukmana juga menginkakkan kaki di Kairo. Alhamdulillah, semua pembicara kami sudah sampai di Kairo. Sekarang hanya tinggal tugas kami, bagaimana kami memuliakan tamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s