Taufiq Ismail: Bacalah dan Tulislah! (Wawancara Eksklusif)

Taufiq IsmailMenulis adalah identitas mahasiswa. Barangkali itulah kalimat yang sering didengungkan oleh para penulis-penulis handal saat ini. Seorang mahasiswa memang dituntut  menulis, baik itu tugas ataupun yang lainnya. Tapi, banyak dari mahasiswa, terutama orang Minang di Mesir mengalami kesulitan tatkala diminta untuk menulis.

Untuk itu, kru  Buletin Mitra (Ahwazy Anhar) bersama  Radio Cairo Seksi Indonesia dan kru Terobosan berkesempatan untuk mewawancarai seorang sastrawan nasional yang berasal dari Minangkabau, Taufiq Ismail beberapa waktu yang lalu untuk mengungkap kehidupan beliau hingga bisa menjadi sastrawan yang handal.

Dalam rangka apa Bapak datang ke Mesir?

Saya diundang untuk menghadiri sebuah seminar mengenai ‘Naratif dalam Sastra’ oleh universita Suez Canal di Ismailiah selama tiga hari, yaitu tanggal  10, 11, 12 April kemarin.

Bagaimana mereka tahu karya Bapak?

Puisi-puisi saya  diterjemahkan ke bahasa Arab oleh Prof. Dr. Nabilah Abdul Fattah Lubis, seorang guru besar di UIN Ciputat. Puisi itu lebih dari 100 buah. Dan selesai menerjemahkan itu, Prof. Sangidu, Atdik Cairo kebetulan ke Jakarta, dan bertemu Ibu Nabilah yang bercerita telah menerjemahkan puisi-puisi saya. Kemudian rekaman CD dari puisi saya diberikan pada Pak Sangidu dan dibawa ke Kairo. Dan di Kairo rekaman itu diberikan pada kalangan guru besar sastra di Kairo. Kemudian mereka membaca terjemahan itu dan tertarik sekali dan kemudian mengundang saya untuk datang ke universitas Suez Canal untuk sebuah seminar. Tapi yang menyebabkan itu ialah mereka ingin sekali menerbitkan puisi-puisi saya itu di Cairo, dan kemudian melalui email saya diundang, untuk berbicara mengenai karya saya.

Bagaimana tanggapan mereka tentang puisi Bapak?

Mereka gembira betul, karena ini adalah pertama kali karya puisi Indonesia dibawa ke Mesir, kemudian dibaca mereka dan jumlahnya cukup banyak. Itu meliputi lebih dari 40 tahun saya berkarya dalam puisi, jumlahnya 111 puisi. Mereka senang sekali dan kemudian ingin mendengar saya membacakan puisi itu. Bagi saya itu adalah suatu hal yang sangat asyik. Jadi bagi saya puisi tidak cukup ditulis kemudian dibaca oleh parap embaca. Puisi itu juga dibaca oleh para penyairnya, dan didengar oleh pendengarnya. Dan sambutannya baik sekali, alhamdulillah.

Di nagari Aia Angek  ada Rumah Puisi yang Bapak bangun. Fungsinya untuk apa?

Saya dan istri saya mendirikan sebuah rumah puisi  di Aia Angek, 6 Km dari Padang Panjang. Buku-buku saya, saya pindahkan semua ke sana dan tempat itu menjadi tempat pelatihan membaca dan menulis.

Bagaimana cara sastra membangun karakter bangsa?

 Dalam hal ini, tentu saja karya itu harus ada dan dibaca oleh khalayak bangsa dan diajarkan di sekolah.  Pesan-pesan dari puisi itu  tertanam di hati mereka sehingga ketika mereka masuk ke masyarakat dalam umur dewasa, pesan itu sudah sampai. Hendaknya karya itu tidak dibaca ketika sudah bekerja, itu baik saja, tetapi kalau Anda menyebutkan tentang karakter bangsa, itu harus melalui dunia pendidikan yaitu pada SD, SMP, SMA. Pada waktu itulah karya-karya ini mereka baca. Dalam hal ini, Indonesia tertinggal.

Menurut Bapak apa yang perlu ditingkatkan supaya tidak tertinggal lagi?

Pelajaran bahasa dan sastra di sekolah-sekolah yang sekarang ini sangat didominasi oleh pengajaran tata bahasa. Jadi pengajaran tata bahasa itu memenuhi seluruh jam-jam  dari pengajaran bahasa di SD, SMP dan SMA. Kalau di SD dan SMP itu memang perlu tata bahasa diajarkan seperti sekarang, akan  tetapi di SMA tidak lagi. Di SMA seharusnya dua saja pelajaran bahasa dan sastra ini, yang nomor satu membaca buku, membaca buku, membaca buku dan yang nomor dua menulis karangan, menulis karangan, menulis karangan.  Nah ini tidak terdapat (di SMA red.). Padahal dulu waktu tahun 20-an 30-an, mereka (Para pelajar red.) harus membaca 25 judul buku dalam waktu 3 tahun. 9 buku tahun pertama, 8 buku tahun kedua, 8 buku tahun ketiga di dalam kurikulum. Kemudian menulis 1 karangan seminggu, dibuat di rumah, disetorkan kepada guru, dinilai, dikembalikan. 18 karangan dalam waktu 1 semester. 36 karangan dalam waktu 1 tahun, dalam waktu tiga tahun, seorang tamatan SMA sudah menulis  108 karangan. Dan itu sama nilainya dengan apa yang terjadi di Eropa dan Amerika pada hari ini. Ukuran hebatnya lihat hasil dari mereka yang tamat AMS atau SMA pada zaman itu. Siapa orang-orang itu? Agus Salim, Sukarno, Hatta, Syafrudin Prawiranegara, Muhammad Natsir, Ali Sastro Amijoyo, Sumitro Joyohadikusumo, Muhammad Yamin, Rustam Effendi, Tan Malaka. Ini orang-orang hebat pada waktu itu. Ketika mereka tamat SMA mereka sudah membaca 25 judul buku, sudah mengarang 108 kali sehingga mereka itu semuanya penulis.

Apakah Bapak menuliskan puisi karena kondisi, suatu kejadian atau dalam artian kalau tidak ada kejadian Bapak tidak menulis puisi? Atau bagaimana?

Apa yang menjadi renungan saya dalam hidup saya, itu saya tulis dalam puisi tapi. Kan saya tidak bisa berjalan sendiri, saya hidup seperti tuan-tuan dan puan di sini, ini hidup dalam satu lingkungan dan di dalam lingkungan itu terjadi berbagai macam hal terus menerus. Apalagi kalau mengikuti media masa. Ketika ada hal-hal semacam itu timbul, saya merasa saya juga berkewajiban untuk memberikan pendapat mengenai itu dan kemudian menulis mengenai itu. Akhirnya ndak  habis-habis. Wah, kok begini ya? Capek kadang-kadang. Capek, terutama dalam lima tahun yang terakhir ini. Indonesia dalam tahun terkahir, mengalami bagian sejarah yang tidak ada bandingannya. Saya merasa saya sudah tidak ada peranan lagi sekarang. Peranan saya, saya pernah menyebut dalam hati, saya mengatakan “Peranan saya cukuplah abad 20 saja, abad 21 tak  lagi lah, aku mau bersenang senang dengan cucu.”

Ternyata tidak bisa. Si Ariel muncul lagi, dia dengan begitu. Ya Allah, saya melihat Ariel kan seperti melihat anak atau melihat cucu, kok kelakuannya kayak begitu. Yah saya ndak bisa diam. Tayangannya itu, apa yang dilakukannya dengan Luna Maya dan Cut Tari begitu itu masuk ke ini (Handphone red.) dalam waku satu bulan, 49 perkosaan terjadi terhadap anak anak kecil. Jadi dalam satu hari hampir dua orang. Jadi kenapa anak kecil? Karena pada waktu sesudah anak SMP atau SMA melihat yang di handphone ini kelakuannya Ariel itu dengan dua orang pacarnya itu.

Ini hebat sekali ini bisa mencapai jumlah publik yang 49. Dan si Ariel tidak pernah minta maaf. Setahu saya dia meminta maaf kepada pemirsa televisi, tapi dia tidak minta maaf kepada orang tua anak -anak yangmenjadi korban akibat menonton dia.

Nah, masalah Ariel ini keluar, saya sebagai seorang penyair mendengar ini saya ndak terima. Bagaimana cara saya menyatakan tidak terima? Saya tulis puisi. Itu kewajiban saya.

Kapan Bapak mulai tertarik dengan bidang kepenulisan dan tindakan apa yang bapak lakukan?

Ketika itu saya melihat sebuah majalah kaum  perempuan.  Di kulit luarnya itu ada 3 buah pantun dan di bawahnya  itu ada nama Tinur Muhammad Nur. Lah… Tinur ini kan Ibu saya.. Kemudian saya ambil majalah tu dan saya tanyakan pada ibu saya. Waktu saya saya di SD kelas 1. “Ma..ma.. ini yang menulis ini mama? “ “Iya, mama yang nulis.” Kagum saya pada ibu saya. Lalu akibatnya saya ingin meniru. Kemudian dalam buku tulis yang masih baru, pulang sekolah saya duduk di beranda rumah kemudian saya mulai menulis novel saya itu, waktu kelas 2 SD. Novel itu satu baris. Ndak selesai. Itulah cita-cita yang saya kira menarik sekali karena saya termotivasi untuk meniru orang tua saya.

Itu pada masa SD. Pada masa SMP atau SMA, apakah Bapak aktif dibidang penulisan?

 Tentu saja.

Apa kegiatan bapak saat ini?

45 tahun yang lalu, ada 5 orang yang mendirikan sebuah majalah sastra. Nama majalah itu Horison. Mukhtar lubis, P.K Ojong, Zaini,  Arief Budiman dan saya. Alhamduliallah  majalah itu masih terbit. Dan ini adalah majalah sastra satu-satunya di Indonesia.

Apa bekal pertama yang harus dimiliki oleh seorang sastrawan ?

Membaca! Dia harus membaca banyak, karena itu ibarat bensin, ibarat bahan bakar, tapi bahan bakar itu di sini (kepala red.) disimpannya. Kemudian menulis. Berlatih menulis dan berlatih menulis, itu setiap hari. Kemampuan  saya menulis puisi seperti sekarang ini didukung oleh kepenulisan yang tidak jemu-jemu. Berapa banyak itu puisi yang saya tulis tapi tulisannya masuk keranjang sampah? Banyak sekali! Jadi tidak semuanya yang saya tulis itu jadi.

Siapa atau apa yang paling berpengaruh dalam puisi Bapak?     

Kalau penyair Indonesia tentu saja Chairil Anwar. Kalau yang dari  luar Walt Whitman, Edgar Allan Poe, Muhammad Iqbal,  penulis Hayah Muhammad  yaitu Muhammad Husain Haikal

Bagaimana peranan sastrawan Minangkabau  di pentas nasional dari  dulu sampai sekarang?

Kontribusi dari sastrawan Minang pada waktu tahun 20-an 30-an  itu kan menonjol sekali. Itu wajar saja. Apa sebabnya?  Pada tahun 20-an 30an bahasa Indonesia belum diajarkan di sekolah sekolah. Bahasa Indonesia yang dipakai waktu itu adalah bahasa Melayu kan.  Dan bahasa Melayu ini untuk kawasan Riau, Sumatera Barat, Sumatera pada umumnya itu kan menguasai. Jadi banyak sekali sastrawan dari sana. Jadi sangat logis. Pada waktu itu bahasa Indonesia di provinsi yang lain  itu baru dikenal saja sebagai bahasa persatuan tapi belum diajarkan di sekolah.   Sesudah diajarkan di sekolah kemudian bermunculan  dari daerah yang lain itu dan malah karena daerah lain itu jumlah penduduknya jauh lebih banyak, sastrawannya lebih banyak lagi. Saya melihat itu bukan sesuatu yang harus diherankan.

Apa pesan bapak itu calon sastrawan dari Minang?

Banyak-banyak membaca.  Dan kemudian berlatih menulis. Semoga kalian cepat selesai kuliahnya dan dapat jodoh yang baik dan dapat pekerjaan yang baik.

 Tulisan ini pernah diterbitkan di Buletin Mitra Kmm Mesir edisi IV Th. XX 24 April-24Mei. Silakan unduh/baca buletinnya di http://www.scribd.com/doc/137814714/Edisi-4-Mitra

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s