Taufiq Ismail: Ayah Saya dan Buya Hamka Sekolah di Parabek

Taufik Ismail di depan Masisir 2Jumat (12/4/2013) penyair ternama, Taufiq Ismail bertatap muka dengan mahasiswa Indonesia di Mesir (masisir) dalam acara bedah novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck  karya Buya Hamka. Acara tersebut terselenggara berkat kerja sama KMM Mesir, FLP Mesir, KKS, PCIM Muhammadiah, dan beberapa lembaga lainnya. Acara yang dijadwalkan mulai pukul 14.00 itu diadakan di Rumah Limas, Mutsallas, Nasr City.

Di awal acara, Taufiq Ismail menyatakan bahwa dirinya takjub dengan mahasiswa yang ada di Mesir, karena meski memiliki keterbatasan literatur  berbahasa Indonesia, tapi masih ada gairah untuk menulis.  Dan ia meminta hal tersebut harus dipertahankan dan juga ditingkatkan.

Dalam acara tersebut, Taufiq Ismail menuturkan bahwa pengarang novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Buya Hamka  dan ayahnya, Abdul Gaffar Ismail, dulunya sama-sama menimba ilmu di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi.

Selanjutnya, Taufiq Ismail mengisahkan sedikit tentang orang tuanya, Abdul Gaffar Ismail dan Siti Tinur M. Nur  yang dibuang ke Pekalongan, Jawa Tengah.

“Ada seorang Buya muda dan Ustazah muda tamatan Thawalib Parabek dan Diniyah Putri dibuang oleh Belanda ke Pekalongan dan masyarakat pekalongan gembira sekali dan mereka menerima dengan sangat baik ,” tutur beliau dengan sangat berapi-api.

Ia melanjutkan bahwa ia mendapat banyak cerita tentang Buya Hamka dari ayahnya. Ia menuturkan bahwa dulunya Buya Hamka ketika masih muda adalah anak yang badung tapi  sangat pintar. Ia tahu betul kalau  ia adalah anak ulama besar, Haji Rasul. Jadi ketika masih nyantri di Parabek, ia berbuat dengan  basilanteh angan, semaunya.  Bahkan pernah suatu kali, ayahnya, Gaffar Ismail dikerjai oleh Buya Hamka.

“Gafar… Kamari Ang,” ujar Taufiq Ismail menirukan perkataan Buya Hamka.

Taufik Ismail di depan Masisir

Lalu ayah Taufiq Ismail menghadap kepada Buya Hamka. Kemudian Gaffar Ismail diminta untuk menutup mata dan membuka mulut. Lalu Buya Hamka menggosok daki Gaffar Ismail. Ketika sudah terkumpul diujung jari sebesar kepala jarum, Buya Hamka melempar daki tersebut ke  mulut Gaffar Ismail.

Mendengar kisah tersebut, semua mahasiswa yang mendengarkan tertawa. Meski badung, lanjut Taufiq Ismail, Buya Hamka adalah sosok yang sangat pintar semenjak kecil.

Pria kelahiran 1935 itu menuturkan bahwa  ia sudah  tertarik dengan kepenulisan semenjak dari Sekolah Dasar.  Kegiatan menulis tersebut terus ia lanjutkan hingaa saat ia menjadi mahasiswa, tulisannya  pernah di terbitkan di majalah Panji Masyarakat, yang waktu itu dipimpin oleh Buya Hamka.

Dalam kesempatan tersebut Taufiq Ismail juga mengisahkan tentang keganasan Partai Komunis Indonesia. Ia menuturkan bahwa PKI berkeinginan menghancurkan umat Islam, dan di antara targetnya adalah Buya Hamka dan Bung Hatta.

PKI sering memburuk-burukkan para tokoh Islam tersebut dan bahkan difitnah. Pernah pada suatu hari Buya Hamka menghadiri pesta pernikahan seorang tokoh besar. Dalam acara pernikahan tersebut,  Buya Hamka duduk dan berkumpul dengan tokoh Islam lainnya.

Pada saat itu, Buya Hamka dituduh bersekongkol membunuh Sukarno  dalam acara pernikahan tersebut  untuk merebut kekuasaan. Akibatnya, Buya Hamka ditangkap dan dijebloskan ke penjara selama 2,5 tahun di Sukabumi, Jawa Barat. Selama 2,5 tahun tersebut, masalah tuduhan itu tidak pernah diselesaikan. Namun hikmahnya, dalam waktu yang sangat singkat itu, Buya Hamka berhasil merampungkan karyanya  yang sangat monumental yaitu, Tafsir al-Azhar.

Taufiq Ismail melanjutkan bahwa pada suatu malam sewaktu masih ditahan, Buya Hamka dibawa keluar penjara untuk disiksa. Namun, tepat pada malam itu terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh PKI atau yang dikenal dengan sebutan Gerakan  30 September PKI atau G 30 S PKI . Taufiq Ismail menekankan bahwa kudeta itulah yang menyelamatkan nyawa Buya Hamka dan akhirnya Buya Hamka dibebaskan.

Dua tahun kemudian, lanjut Taufiq Ismail, Buya Hamka diundang untuk menceritakan kisahnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Buya Hamka menuturkan bahwasanya meski ia difitnah, diburuk-burukkan, karya-karyanya dilarang beredar di masyarakat, ia menyadari bahwa hal itu karena propaganda politik. Oleh sebab itu, ia sudah memaafkan semua orang yang pernah menfitnah dan menyakitinya tersebut.

Taufiq Ismail menuturkan bahwa orang-orang yang mendengar kisah Buya Hamka di Taman Ismail Marzuki sangat terharu. Bahkan, lanjutnya, seorang novelis terkenal bernama Iwan Simatupang ikut terharu dan menangis mendengar ucapan Buya Hamka tersebut.

Taufiq Ismail menyatakan bahwa itulah sosok Buya Hamka yang ia kenal  waktu kecil sebagai orang yang badung, namun setelah dewasa menjadi sosok yang sangat pemaaf, tidak pernah dendam, dan sakit hati.

 “Mudah-mudahan kita semua dapat menirunya, ” ujar pria kelahiran Bukittinggi tersebut.

Di akhir acara, Taufiq Ismail mendoakan agar seluruh mahasiswa  Indonesia yang menimba ilmu di Mesir sukses kuliah, dapat jodoh yang cocok, dapat pekerjaan yang bagus, sama-sama masuk ke dalam Raudhatul Jannah. Dan semua peserta mengaminkan doanya.

Saksikan videonya disini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s