Akibat Fatwa Sempit

Kita lihat di sekitar kita, tidak sedikit kita  dengar fatwa-fatwa yang bersifat tasyaddud atau sempit, dalam artian fatwa tersebut memperluas wilayah keharaman dan mempersempit wilayah kehalalan. Contohnya ketika ditanya kepada seorang Syekh mengenai hukum membuka internet bagi perempuan,  ia menjawab bahwa tidak boleh membuka internet bagi perempuan kecuali jika ada mahramnya yang mengetahui apa yang akan diperbuat perempuan tersebut dengan internet. Kemudian ada lagi poster yang  menggambarkan bahwa orang yang memakai cadar berjalan ke arah surga sementara orang yang hanya memakai jilbab tanpa cadar berjalan ke arah neraka.

Apakah benar kehalalan dalam islam hanya sedikit dan keharaman lebih banyak? Bukankah agama islam agama yang mudah? Bukankah Allah mengatakan bahwa Dia menginginkan kemudahan bagi para hambaNya dan tidak menginginkan kesulitan?

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW berkata, “Permudahlah dan jangan dipersulit!!! Berilah kabar gembira dan jangan menakut-nakuti!!”

Jika seorang mufti memberikan fatwa tasyaddud, maka ada dua kemungkinan keadaan bagi orang yang meminta fatwa, yaitu:

  1. Kemungkinan pertama boleh jadi orang  akan puas dengan fatwa sempit yang ia berikan sehingga membuat orang akan jauh dari kehidupan sosialnya karena menganggap hal-hal yang ada disekitarnya tidak sesuai dengan pendapatnya. Ia menganggap bahwa semua hal itu adalah haram. Akibat lebih lanjutnya bisa terjadi tindakan terorisme karena pahamnya yang tidak sesuai dengan paham sebagian besar muslim dan pada akhirnya kita lihat islam akan dipandang sebagai agama yang sempit oleh orang non muslim seperti yang kita lihat sekarang.
  2. Kemungkinan kedua  bisa jadi orang akan lari dari agama karena menganggap agama islam itu sangat sulit. Ini haram itu haram. Ini dilarang dan itu dilarang. Boleh jadi pada akhirnya orang ini akan murtad atau setidaknya fasik.

Ada sebuah kisah di masa sahabat tentang seseorang yang terluka. Kemudian orang itu tidur dan bangun untuk shalat subuh. Rupanya  ia bermimpi dan junub.  Untuk melakukan shalat subuh, orang ini ingin bertayammum saja karena ia sedang terluka. Pada waktu itu, sebagian orang yang ada disekelilingnya mengatakan bahwa ia tidak diperbolehkan untuk bertayammum tapi wajib untuk mandi. Lalu ia mandi dan meninggal.  Tatkala sampai kepada Rasul kisah ini, beliau mengaatakan bahwa kenapa orang –orang yang memberi fatwa itu tidak bertanya padahal pada waktu boleh bagi orang yang terluka tersebut  untuk bertayammum saja.

Begitulah kisah nyata yang terjadi di masa rasulullah. Kisah ini memberikan kita pelajaran yang sangat berharga bahwa islam itu adalah agama yang mudah, bukanlah sulit.

Akhir kalam, saya juga menyadari bahwa saya bukanlah guru atau mufti yang punya banyak ilmu, yang bisa mengajarkan kepada orang banyak mengenai suatu hal.  Saya menyadari bahwa saya hanyalah seorang penuntut ilmu. Sangat saya harapkan kepada  guru-guru saya, kepada orang yang dijadikan rujukan bertanya bagi masyarakat umum, agar lebih berhati-hati  dan memelihara kondisi lingkungan dalam memberikan jawaban dan memberikan fatwa yang lebih mudah kepada orang yang bertanya. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s