Only in Egypt !

Setelah jam kuliah usai, puluhan siswa asia terutama Indonesia dan Malaysia mulai memenuhi Terminal Darrasah. Tujuan mereka hanya satu, menanti dan menaiki bus nomor 80 yang angkanya diberi garis miring atau yang lebih dikenal dengan Bus 80 Coret. Bus tersebut merupakan andalan utama para mahasiswa yang tinggal di kawasan Hay ‘Asyir untuk kembali ke rumah masing-masing disamping beberapa bus lainnya.
Siang itu terik matahari yang menyengat menemani penantian para mahasiswa yang ingin segera pulang. Butiran-butiran keringat mengucur deras membasahi pakaian mereka. Tapi mereka tidak mau menyerah karena menyerahpun tidak ada gunanya. Satu-satunya yang bisa mereka kerjakan hanya menunggu, menunggu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Dengan banyaknya pesaing yang akan menumpangi Bus 80 Coret, siapapun pasti ingin menjadi yang tercepat untuk mendapat tempat duduk. Jiwa kompetitif pun harus dikompori. Kalau tidak, hanya ada dua konsekuensi; menunggu bus selanjutnya yang bisa mencapai satu jam atau berdiri di atas bus karena tidak mendapatkan tempat duduk yang juga bisa mencapai satu jam untuk sampai ke rumah. Itupun dalam kondisi panas dan gerah.
Satu bus 80 Coret melesat dengan sangat cepat memasuki terminal. Setiap mahasiswa mulai memasang kuda-kuda dan memprediksi apakah bus akan berhenti di sisi kanan atau kiri dari terminal. Sementara itu, beberapa mahasiswa lainnya mengejar bus tersebut tapi bus itu tidak berhenti. Para mahasiswa yang berlari tadi memaksa masuk saat bus meluncur pelan untuk berhenti. Akibatnya, mereka terseret beberapa meter karena kaki mereka tidak sempurna memasuki bus. “Untung saja tidak terjadi hal yang fatal terhadap mahasiswa tersebut”, ungkap salah seorang mahasiswa yang menyaksikan kejadian itu.
Di saat itu, mahasiswa yang jeli dan berhasil membaca dimana bus itu berhenti, bisa langsung masuk ke dalam bus dan mendapatkan kursi kosong. Tetap saja, masuknya harus dengan perjuangan yang sangat keras, harus lincah bahkan sampai harus tindih kanan tindih kiri, sikut kanan-sikut kiri. Harus sedikit kejam memang.
“Saya sampai harus menindih teman saya untuk masuk bus. Saya jadi merasa bersalah apalagi setelah tahu ia tidak dapat tempat duduk,” ungkap salah seorang mahasiswa yang tidak ingin namanya disebutkan. Untung saja kebiasaan seperti ini hanya dialami mahasiswa laki-laki karena kampus perempuan terletak jauh dari kampus laki-laki dan angkutan umum yang lalu lalang di depan kampus perempuan jauh lebih banyak.
Semua calon penumpang berebutan untuk masuk ke dalam bus. Setiap mereka ingin menjadi yang tercepat untuk mendapatkan tempat duduk. Tidak sampai lima detik, semua sisi bus sudah disesaki para mahasiswa. Ada yang duduk dan lebih banyak yang berdiri. Tidak ada satu incipun dari bagian bus yang tersisa. Semua terisi penuh. Hal ini akan membuat siapapun tidak betah berlama-lama berada di sini.
Perlahan, bus mulai meninggalkan terminal dan meluncur ke wilayah Duwaiqah dan terus menuju Hay ‘Asyir. Semua penumpang terombang ambing mengikuti laju bus. Suasana panas, bau keringat, sirkulasi udara dalam bus yang tidak bagus, ditambah lagi dengan kemacetan akan menjadi sebuah penyiksaan sekaligus penempaan mental bagi para penumpang terutama bagi penumpang yang tidak kebagian tempat duduk.
Kernet mulai menjalankan aksinya untuk meminta ugrah atau ongkos kepada penumpang. Badannya yang tambun dan besar berusaha melawati tumpukan para penumpang, mengitari seisi bus. Dengan cepat ia menerima kepingan uang logam satu Geneh dari setiap penumpang dan memberikan karcis kepada penumpang tersebut. Setelah bersusah payah meminta ongkos, ia kembali ke tempat duduk yang disediakan khusus untuk kernet sehingga ia tidak perlu capek-capek berdiri seperti penumpang lainnya.
Bila dibutuhkan, bus akan berhenti di setiap mahaththah untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Jika ada penumpang baru yang masuk dan posisinya jauh dari kernet, dengan penuh kesadaran ia langsung memberikan ongkosnya kepada orang terdekat. Ongkos tersebut berpindah dari tangan ke tangan hingga akhirnya sampai kepada kernet dan begitupun dengan kernet, ia juga mengoper karcisnya melalui tangan yang sama hingga sampai kembali kepada orang yang membayar sebelumnya. “Saya sangat takjub dengan kejujuran orang mesir terutama ketika pembayaran ongkos, mereka sangat jujur,” tutur Doni yang menyaksikan fenomena tersebut. Maka terlihatlah, agama islam memang memberikan dampak yang sangat baik bahkan terhadap masalah yang kadang dianggap sepele sekalipun.
Bus tetap melaju dengan cepat karena kebetulan ruas jalan tidak macet. Doni tetap memandang kaku ke satu arah karena sempitnya tempat bergerak. Jika ia menoleh kekiri, maka wajahnya akan bertemu dengan ketiak orang mesir yang menggantungkan tangannya pada besi yang membentang di langit-langit bus. Jika menghadap ke kanan, wajahnya akan bertemu sangat dekat dengan wajah orang kulit hitam. Jadinya, ia hanya bisa menghadap ke satu arah, ke depan. “Beginilah perjuangan saya setiap hari pulang kuliah,” tutur Doni dengan sepotong senyum yang membentang di bibirnya.
Pandangan Doni menembus kaca bus bagian depan. Karena jalannya yang lurus, terlihat jelas semua ruas jalan disesaki oleh ratusan atau bahkan ribuan kendaraan hingga ke ujung kaki langit. Semuanya terjebak dalam kemacetan layaknya semut yang masuk sarang, harus antri. Tidak ada jalan yang bisa digunakan untuk menyelip. “Saat seperti ini memang dituntut kesabaran yang tinggi walau kadang tak rela,” kata Doni.
Saat bus masih berusaha menerobos kemacetan, tiba-tiba masuk seorang ibu dari pintu belakang. Dengan bersusah payah ia menyeret badannya yang gemuk dan juga harus ikut berjuang bertindihan dengan semua penumpang. Seketika itu juga, seorang mahasiswa dari Indonesia berdiri dan mempersilakan ibu itu untuk duduk. Si ibu pun berterima kasih kepada mahasiswa tadi. Ketika ditanyai mengapa mahasiswa tadi mau memberikan tempat duduk ia menjawab, “Ana teringat dengan ibu ana jika mengalami hal yang sama. Pasti ana nggak sanggup melihat beliau berdiri bertindihan. Jadi lebih baik ana yang berdiri.” Fenomena seperti ini sangat sering terjadi. Barangkali inilah salah satu sebab kenapa orang mesir sering menyebut mahasiswa Indonesia dengan Ahsanun nas, orang-orang yang sangat baik.
Ketika masuk angkutan umum, orang Mesir selalu mengucapkan salam. “Aneh padahal mereka tidak saling kenal, tapi mereka tetap mengucapkan salam. Kalau di Indonesia pasti saya sedikit malu kalau masuk angkot dengan mengucapkan salam,” kata Andi sambil tertawa kecil.
Tidak hanya itu, di saat bus menerobus kemacetan akan terlihat banyak orang mesir bahkan mahasiswa Indonesia yang membaca Al Quran di atas bus, memanfaatkan kekosongan waktu supaya tidak terbuang sia-sia. “Saya sering membaca AL Quran ketika berada di atas bus, tidak hanya untuk memanfaatkan waktu, hal ini juga saya lakukan untuk menahan pandangan. Kita kan tahu, wanita-wanita Mesir itu cantiknya luar biasa,” ungkap salah seorang mahasiswa seraya bibir terkembang.
Lebih dari itu, ada fenomena yang jauh lebih unik. “Waktu bulan Ramadan kemaren, ada saja orang-orang baik yang memberikan ifthar (buka puasa) kepada siapapun yang berada di atas angkutan umum. Saya sangat takjub karena belum pernah menemukan hal seperti ini di Indonesia,” ungkap Ahmad. Hal serupa akan didapati di setiap sudut Mesir ketika waktu buka puasa datang, setiap hari. Jadinya, para penumpang tidak perlu khawatir terlambat buka puasa.
Seperti inilah fenomena-fenomena unik yang akan terbingkai abadi dalam kenangan bagi siapapun yang berkesempatan menghirup udara Mesir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s