Menembus Batas Cakrawala

Dimensi jarak dan waktu yang terlalu jauh dengan kampung halaman seolah melarangku untuk pulang. Tapi ku paham, itulah pengorbananku untuk menuntut ilmu. Walaupun tidak bisa berlebaran dengan sanak famili di kampung halaman, Allah memberikanku sanak famili yang baru yang bahkan aku belum pernah kenal sebelumnya di negeri ini, negeri padang pasir, mantan Negeri Fir’aun.

Lebaran dengan keluarga baruku ini sangat bermakna. KMM, begitulah ia sering disebut. Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau atau yang biasa dikenal dengan KMM Mesir merupakan organisasi induk urang awak di Bumi Kinanah ini. Bersamanyalah aku akan mengarungi bahtera kehidupan hingga  selesai menuntut ilmu di negeri ini. Beberapa tahun ke depan, InsyaAllah…

Untuk tahun ini, KMM akan mengadakan Rihlah Sa’idah ke Matruh dan Siwa. Perjalanan ini akan memakan waktu tiga hari tiga malam, dari tanggal 3  hingga 5 September 2011.

Rihlah Hari Pertama

Matruh adalah sebuah kota indah yang terletak di tepi pantai utara mesir yang menghadap ke  Laut Mediterania. Jaraknya sekitar 500 km dari Cairo sementara Siwa adalah sebuah kota kuno yeng banyak menyimpan misteri sejarah klasik seperti Mata Air Cleopatra dan lainnya. Itulah yang akan menjadi adventure  ku kali ini di Negeri Fir’aun. Kota yang berbatasan langsung dengan Libia ini berjarak sekitar 306 km dari Matruh. Jadi kami akan melakukan perjalanan lebih dari  1600 km untuk pergi dan kembali lagi hingga sampai di Cairo.

Sepanjang yang ku ketahui, rihlah kali ini adalah rihlah terjauh yang diadakan KMM Mesir. Pesertanyapun juga sangat banyak, mencapai 101 orang. Semua peserta dibagi menjadi dua buah bus yang seat-nya sudah diatur langsung oleh KMM.

Awal langkah, perjalanan akan menuju kota Matruh. Bus berangkat dari Rumah Gadang pada pukul 02.00 dini hari dan sampai di Matruh, tepatnya di Pantai Romel pada pukul 09.00 pagi.

Inilah wisata bahari pertama yang akan  ku nikmati, pantai Romel. Pantai ini mempunyai dua sisi, sisi yang menghadap ke laut lepas Mediterania dan sisi yang menghadap ke kota Matruh. Aku dan para peserta rihlah yang lain digiring untuk menuju Pantai Romel laut lepas untuk makan pagi. Kami akan memberikan hak untuk Kampuang Tangah di sini karena tempatnya yang nyaris agak sepi sehingga akan memudahkan kami untuk menelan nasi.

Seraya panitia menyiapkan peralatan untuk makan pagi, aku dan teman-teman yang lain tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang sangat berharga ini. Kamipun membuat kelompok-kelompok, mengeluarkan gaya terunik untuk dan mengabadikannya. Ada yang berpose di atas batu karang, di tepi pantai dan ada juga yang berpose sendirian dengan  klaim “Untuk mengambil foto profil.”

Setelah selesai makan pagi, aku dan teman-teman berpindah ke Pantai Romel Laut Buatan. Pantai ini menyediakan fasilitas yang sangat banyak. Diantaranya ada sepeda air dan banana boat. Akupun langsung menukar pakaian  yang pantas untuk berenang. Sebentar kemudian aku  masuk ke dalam laut dan menikmati sejuknya air laut yang diciptakan oleh  Sang Maha Indah.

Tidak lupa pula, aku juga menaiki sepeda air bersama teman-teman dan mengayuhnya hingga ke tengah laut. Sadar bahwa kami tidak terlalu pandai berenang, kami kembali mendekati bibir pantai, takut terjadi hal-hal tang tidak diinginkan.  Sepanjang perjalanan dengan  sepeda air, aku dan teman-temanku  menikmati birunya laut yang nyaris tidak berbeda dengan warna langit, sangat indah. Tidak hanya itu,  kami juga sempat bercengkrama dengan pemuda-pemuda Mesir sepintas  berbagi kegembiraan.

Selesai dengan sepeda air, aku merasa tertantang untuk menaiki Banana Boat. Aku, Irsyad, Maswir, Bang Yosa, Bang Feri, Bang Anton, dan Bang Taufik menjadi satu tim untuk menakhlukan Sang Pisang satu ini. Beberapa saat sebelum menaiki Sang Pisang, Bang Anton memberi pengarahan guna menyiasati agar kami tidak jatuh, terpelanting dari Sang Pisang.

Karena begitu ramainya peserta yang akan menaiki Banana Boat, akupun harus menunggu antrian hingga beberapa menit. Sambil menunggu giliran, aku bermain voli di laut yang dangkal. Sejenak, yang ada dalam fikiranku hanyalah kebahagiaan, kegembiraan, seolah aku hidup tanpa beban sedikitpun. Sangat menyenangkan.

Hingga tibalah saatnya giliran kami untuk menaiki Banana Boat. Kami semua diwajibkan memakai jaket pelampung agar tidak terbenamr. Satu persatu dari kami menaiki Sang Pisang. Beberapa detik kemudian, kami semua sudah berada di atas Sang Pisang.

Sejenak,  aku  menghirup nafas panjang. Menatap tajam ke permukaan laut seperti elang seraya memikirkan dan memperkirakan apa yang akan terjadi dalam beberapa menit ke depan. Kedua tanganku memegang tali yang membentang pendek di hadapanku. Ku kokohkan letak kakiku di punggung Sang Pisang dan berharap terjatuh.

Perlahan-lahan, Sang Pisang ditarik oleh boat dengan lambat. Detak jantungku mulai  bertabuh layaknya genderang. Aku tetap memegang erat tali yang ada di depanku. Sang Pisang mulai ditarik ke tengah laut. Semakin lama laju Sang Pisang semakin kencang mengikuti kencangnya boat. Peganganku semaki erat. Pijakan kaki semakin ku kokohkan. Percikan air laut mulai menerpa wajahku. Semakin kencang dan semakin ke tengah. Tarikan nafasku semakin cepat dan pendek-pendek. Sebentar kemudian Sang Pisang berbelok ke kanan mengikuti arah kelokan boat. Tikungan yang sangat tajam. Beberapa detik pertama kami masih bisa mengimbangi tikungan yang diberikan sang pisang. Tiba-tiba, kelokan semakin tajam ziuuuuuuuuung…buarrr…  kamipun terhempas terpelanting  ke laut. Pandanganku tidak jelas.  Aku merasakan air asin masuk ke mulutku. Aku tidak sadar apa yang terjadi. Rupanya kami semua sudah mengapung terombang-ambing di tengah lautan.

Kesempatan pertama kami habis. Berarti ada dua kesempatan lagi. Satu per satu, kami menaiki kembali punggung pisang. Kini adalah kesempatan kedua kami. Aku dan teman-teman yang lain kembali mendengarkan pengarahan dari Bang Anton untuk mengikuti gerakannya.

Kesempatan kedua dimulai. Sang Pisang kembali ditarik oleh boat  ke depan. Semakin lama semakin kencang dan bertambah kencang. Perlahan, Sang Pisang menikung ke kanan. Kami bisa mengimbanginya dengan merebahkan badan sedikit ke kanan. Syukurlah kami berhasil. Tapi tiba-tiba Sang Pisang menikung lebih tajam mengikuti boat  yang menariknya. Lagi, kami terpelanting ke laut. Pandanganku kembali kabur. Air asin kembali merengsek masuk ke mulutku. Kembali, kami terapung tak berdaya untuk yang kedua kalinya di tengah lautan. Begitu juga dengan kesempatan ketiga hingga kami benar-benar merasa puas. Puas dengan “Panganiayaan” yang dilakukan Sang Pisang.Setelah selesai dengan banana boat, aku kembali ke bibir pantai sambil menikmati apa yang barusan ku alami. Selanjutnya, aku keluar dari laut dan menuju ruangan untuk berganti pakaian.

Aku dan para peserta rihlah yang lainnya sangat dimanjakan dengan fasilitas bermain yang  tersedia. Kami semua bisa menikmati semua permainan hingga benar-benar semua beban yang kami rasakan hilang lenyap terbenam ke dasar lautan. Memuaskan diri dengan sejenak melupakan beban fikiran masing-masing. Melihat tingkah laku kami, sang mentari seolah tersenyum seraya menyinari kami dengan cahaya keindahannya. Keindahan yang dicipatakan oleh Zat Yang Maha Indah.

Hingga mendekati zuhur, kami semua diminta untuk menyelesaikan permainan dan berganti baju untuk melanjutkan perjalanan. Selanjutnya kami akan beranjak menuju Hamam Cleopatra,tempat mandinya Sang Ratu Mesir.

Hamam Cleoptra diklaim sebagai tempat mandi  Sang Ratu Mesir. Letaknyapun sangat strategis, berada di bibir pantai. Bisa dibilang orang yang membangun hamam untuk Ratu Cleopatra sangat profesional  karena letaknya yang dekat dengan air. Jadi Cleopatra tidak perlu bersusah payah lagi menimba air dan mencari tempat pembuangan airnya.

Selesai di Hamam Cleopatra, kamipun digiring ke atas bus untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Ajibah. Di sini, suasananya   sangat indah, cerah, mengharu biru, hingga  membuat siapapun betah berlama-lama untuk termenung menyaksikan keindahan sang pencipta ini.

Tak mau ketinggalan, aku berlari ke tempat teman-teman sedang mengatur tempat untuk berfoto. Aku nyelonong masuk ke dalam barisan menghadap ke kamera. Jepret… satu poto pun jadi. “Alun taraso bana lai…,” ungkap salah seorang teman. Dan jepret…jepret… begitulah hingga beberapa kali.

Kalau pergi jalan-jalan memang nggak lengkap kalau tidak ada kamera. Nggak bisa diabadikan. Jadi bisa dilihat, bagaimana “Himagipo” Himpunan Manusia Gila Poto mengeluarkan gaya ternarsisinya untuk mendapatkan foto yang memuaskan. Makanya ada yang bilang bahwa dalam hal ini tidak berlaku dalil, “wa kafa billahi syahida.” Semuanya harus diabadikan.

Di Pantai Ajibah ini aku dan teman-teman yang lainnya menunaikan kewajiban Salat Zuhur dan Asar dengan Jamak Ta’khir dan diqashar. Disini juga kami memberikan hak  kepada Kampuang Tangah , mengisinya hingga ia tidak lagi berteriak kelaparan.

Hingga menjelang sunset, kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Selanjutnya kami menuju Kota Siwa, kota yang menjadi saksi bisu sejarah masa lampau, kota yang menyimpan banyak peninggalan-peninggalan bersejarah.

306 km, itulah kira-kira jarak dari Matruh ke Siwa. Waktu tempuh tidak terlalu lama, hanya tiga setengah jam karena memang jalan yang akan kami lalui rata-rata lurus tanpa tikungan tajam yang akan membuat bus terpelanting seperti yang terjadi sewaktu kami menjawab tantangan  Banana Boat  tadi. Selama di perjalanan, kami ditemani oleh Sang Rembulan di kaki langit sebelah kanan. Menemani perjalanan kami dengan setia  hingga  sampai di Siwa pada pukul 23.15 CLT.

Setelah beberapa lama tidak melihat kasur karena hanya tidur di mobil, akhirnya sekarang aku kembali bisa menikmatinya. Membaringkan badan, merenggangkan otot-otot akibat dikerjai oleh Sang Pisang, dan kamipun tertidur lelap hingga azan subuh mengetuk pintu kamar, membangunkan  kami untuk salat subuh.

Rihlah Hari Kedua

 Hari ini, di kota Siwa aku beserta teman lainnya akan menuju beberapa tempat wisata yang belum pernah kami temui sebelumnya.  Kaki pertama kami diinjakkan ke Buhaira Malhiyyah atau danau garam.  Luasnya hanya sekitar 8 x 40 km. Menurut penduduk setempat, danau garam ini sudah ada semenjak 7 abad sebelum masehi, jadi sudah sangah tua.

Sesampai di danau garam ini, aku sangat terkesima.  Danau ini sangat putih dan bersih, layaknya salju. Bedanya, kalau salju berkulit lembut sedangkan garam berkulit kasar, indahnya mereka berdua sama-sama putih. Karena tidak mau kehabisan waktu, aku langsung turun dari bus dan mendekati danau garam ini. Tidak menjadi orang-orang  rugi, aku juga turut mengabadikan fotoku, bermesraan berdua dengan  Buhaira Malhiyyah.

Selesai berfoto ria di danau garam, kami balik kanan dan menuju Jabal Dakrur. Jabal Dakrur  merupakan sebuah bukit tempat berkumpulnya para penduduk Siwa pada hari ulang tahun Kota Siwa. Biasanya, acara perkumpulan tersebut diadakan pada  pertengahan tahun Hijriah.

Puas di Jabal Dakrur, selanjutnya kami menuju ‘Ain Cleopatra atau mata air Cleopatra. Konon katanya, mata air ini dahulunya pernah disinggahi Alexander the Great dan Ratu Cleoptra. Itulah sebabnya dinamakan dengan mata air Cleopatra. Di sekitar mata air ini, banyak tumbuh pohon kurma. Sangat banyak dan buahnya pun menjulai hingga setinggi bahu sehingga mudah untuk dipetik.

Puas di ‘Ain Cleopatra, aku dan teman-teman yang lain bertolak menuju Ma’bad Amun atau kuil Amun. Diceritakan bahwa kuil ini sudah berdiri semenjak  700 tahun sebelum masehi. Jadi umurnya sudah lebih dari 2700 tahun. Sekarang, kuil ini hanya menyisakan beberapa bongkahan batu besar yang rata-rata berbentuk balok. Hebat sekali kuil ini, bisa bertahan hingga tahun 2011.

Selesai di Ma’bad Amun, kamipun digiring menuju Jazirah Fathnas.  Daratan ini merupakan ladang kurma yang sangat subur. Barangkali ini disebabkan oleh danau garam yang mengelilinya sehingga tumbuhan bisa tumbuh dengan sangat subur. Tidak hanya itu, di tengah-tengah Jazirah Fathnas terdapat mata air yang dikenal dengan nama ‘Ain Shouruf. Sekitar 15  orang peserta rihlah  mandi di mata air ini. Sebagian yang lain ada yang duduk-duduk sambil minum Fanta di tepi danau garam.

Sementara itu, aku dan teman yang lainnya sibuk mengelilingi kebun kurma. Kalau ada buahnya yang rendah dan sudah matang, aku langsung memetik dan memakannya. Sungguh nikmati. Anehnya, walau daerah sekelilingnya dikuasi oleh asinnya danau garam tidak membuat sedikitpun membuat kurma terasa asin. Tentunya tidak lupa, aku mengabidakan semua fenomena ini dengan kamera.

Wisata kami tidak berhenti sampai disini saja. Selanjutnya kami pulang ke penginapan dan bersiap menuju wisata yang sangat menantang, Off Road, mengitari padang pasir sahara dengan menggukan mobil jeep.

Perjalanan menuju padang pasir segera dimulai. Aku dan teman-teman yang lain langsung dijemput dengan jeep ke tempat penginapan. Keluar dari penginapan, kulihat banyak mobil jeep yang berbaris rapi di pinggir jalan menunggu kami untuk menungganginya .

Aku, Bang Anton, Bang Yosa, Isryad, Bang Boris, Bang Feri dan Bang Faisal menjadi satu tim dalam menjawab tantangan atraksi  padang pasir ini. Tim kami bernama Tiger  Blue karena mobil jeep kami yang berwarna biru. Tepat pukul 15.30, Tiger Blue dan rekan-rekannya melarikan kami, semua peserta rihlah  menuju padang pasir yang berbatasan langsung dengan Libia.

Ciptaan yang sangat indah, sangat sempurna. Itulah kata-kata yang tepat sebagai ungkapan dari apa yang ku saksikan. Sejauh mata memandang, tiada yang  terlihat kecuali hanya pepasiran halus berwarna coklat keputih-putihan.  

Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar. Tidak ada satu katapun yang bisa melukiskan indahnya ciptaan Allah yang ku lihat ini. Padang pasir halus nan indah, sekarang ada dihadapanku membentang hingga ke batas horizon.

Lima belas  mobil jeep mulai mengeluarkan keahliannya. Mereka saling berkejar-kejaran hingga menuju titik pemberhentian  pertama. Begitupun dengan Tiger Blue. Ia tak mau kalah memberikan sensasi yang menguji adrenalinku. Sebentar-sebentar ia melaju kencang hingga mendaki bukit pasir. Ketika berada di lereng bukit ia menikung tajam sehingga membuat kami semua terpekik kaget. Nafasku sempat berhenti sejenak.  Untungnya aku dan teman setimku tidak terlempar keluar jeep seperti yang dilakukan Sang Pisang kepada kami.

Nafasku masih belum teratur. Barangkali wajahku masih terlihat pucat akibat perlakuan Tiger Blue yang membuatku terkaget-kaget.  Begitu juga dengan teman setimku yang lain. Tapi yang jelas, kami semua sangat menikmatinya.

Sesampai di tempat pemberhentian yang pertama, kami semua keluar dari jeep masing-masing. Ku lihat, sahabatku Irsyad langsung melompat dari jeep dan berguling-guling di atas pasir karena sangat bahagia dengan apa yang ia rasakan. Sementara teman-teman yang lain, sibuk dengan kameranya masing-masing dan saling bergantian mengambil foto. Berbagai macam gaya mereka keluarkan. Ada yang pura-pura sedang berdoa, ada yang berpura-pura sedang sujud, sedang rukuk, dan tetap masih ada yang minta foto sendirian dengan alasan, “Untuk foto profil.”  Begitulah hingga beberapa menit kemudian dan kamipun kembali melanjutkan perjalanan memutari padang pasir halus ini.

Semua peserta rihlah kembali menaiki jeep mereka masing-masing. Tiger Blue dan kawan-kawannya kembali melarikan kami ke tengah padang pasir. Mereka semua berlarian dan berkejaran menuju tempat pemberhentian berikutnya.

Dengan kencangnya, Tiger Blue menguji Adrenalin kami hingga badan kami terlempar ke kiri, ke kanan, bahkan ke depan. Bang Anton yang duduk di samping kananku, mengeluarkan setengah badannya melalui pintu kaca yang terbuka sambil memegang handycam, merekam fenomena yang indah ini.

Tiger Blue melaju semakin kencang. Kali ini ku melihat sebuah bukit pasir yang tinggi dihadapanku. Dengan penuh semangat, Sang Sopir memaksa Tiger Blue untuk mendaki dengan kencang hingga sampai di pucak bukit pasir tersebut. Di puncak ini, Tiger Blue berhenti sejenak seolah berbicara pada kami, “ini tantangan untuk kalian selanjutnya.”

Aku menjulurkan leherku ke depan seperti jerapah untuk melihat ujung kaki bukit ini. Ku lihat lereng bukitnya sangat terjal dan ujung kakinya pun jauh di depan. “Inilah tantanganku selajutnya, Bismillah,” bisikku dalam hati.

Ku terdiam sejenak. Ku tarik nafas dalam-dalam. Ku kokohkan posisi duduk. Sementara Bang Anton siap merekam apa yang akan terjadi dalam beberapa detik ke depan. Semua wajah terlihat tegang sepertinya mereka membayangkan hal terburuk  yang akan terjadi. Akupun semakin tegang. Detak jantungku kembali bertabuh keras. Fikiranku berkemelut berkecamuk. Bagaimana kalau jeep ini tidak bisa mengimbangi lereng padang pasir sehingga ia akan terguling-guling. Bagaimana kalau aku terlempar keluar dari jeep. Semua kemungkinan terburuk ku fikirkan. Hal ini semakin membuatku tertantang dan bersiap menjawab tantangan Tiger Blue.

Tiger Blue melaju sedikit demi sedikit menuruni lereng bukit pasir yang terjal. Lama kelamaan semakin kencang dan bertambah kencang. Badanku miring beberapa derajat ke depan mengikuti miring jeep menuruni lereng bukit namun bisa ku topang dengan kaki kanan. Tanganku kiri dan kanan berusaha memegang jok kursi dan jendela agar  posisiku tetap seimbang.  Hingga akhirnya jeep pun melaju menuruni bukit dengan sangat kencang membuat kami semua yang berada di atas jeep terpekik keras, menikmati kejutan-kejutan yang di berikan sang sopir yang telah berpengalaman. Begitu yang ku rasakan hingga beberapa kali. Rasanya benar-benar membuat jantungku ingin copot.

Sampai akhirnya mobil jeep kembali berhenti, rehat sejenak. Kali ini kami berhenti di oasis. Sebuah  tabek atau kolam yang berada di tengah padang pasir nan luas. Sungguh cantik ciptaan Allah yang satu ini. Walaupun ia dikeliling padang pasir yang begitu luas, tapi ia masih tetap terus bertahan dan memberikan manfaat kepada siapapun yang menemuinya, tanpa pilih kasih. Begitulah indahnya ciptaan sang maha pencipta, ekspresi kasih sayang tak terhingga kepada para hamba-Nya.

Di oasis ini, aku dan konco-koncoku diizinkan untuk berenang. Tidak mau membuang kesempatan, aku langsung mengganti pakaian yang sudah ku persiapkan sebelum berangkat. Langsung saja, aku menceburkan diri ke dalam oasis. Oasisnya lumayan dalam.

Selesai berpesta di tabek tangah pasia, kami mengganti pakaian dan melanjutkan perjalanan. Kali ini kami masih berhenti di oasis, cuma bedanya yang tadi airnya dingin yang sekarang airnya panas. Aku dan teman-temanku duduk di tepi oasis sambil menurunkan kaki ke dalam air. Awalnya memang terasa agak panas, barangkali karena suhu kakiku belum bisa mengimbangi suhu airnya. Namun lama-kelamaan panas yang ku rasakan semakin berkurang hingga aku bisa bermain air dengan puas.

Tidak begitu lama, selanjutnya kami kembali lagi ke dalam jeep. Untuk kesekian kalinya, kami kembali dilarikan mendaki bukit pasir lalu menuruninya dengan kencang lalu mendaki lagi dan menuruninya. Sangat menyenangkan.  Sungguh fenomena yang belum pernah ku bayangkan sebelumnya. Selanjutnya kami berhenti dipuncak bukit pasir nan indah. Beberapa teman mengeluarkan papan skate untuk berseluncur menuruni bukit pasir ini.

Walau terik matahari terasa begitu panas, namun rasa panas tersebut kalah oleh sorak  sorai kami menikmati pasir nan indah. Semuanya hanya tertawa ria sambil mengeluarkan fose terbaiknya untuk berfoto. Begitulah hinga akhirnya sang mentari membenamkan dirinya di tengah padang pasir, menandakan tiba giliran sang malam menjaga kami. Kesempatan inilah yang paling ku tunggu-tunggu. Dulunya, sunset hanya bisa ku nikmati di tepi laut. Tapi sekarang kisahnya berbeda. Kali ini ku meresapi dan menikmati bagaimana sang mentari terbenam di ujung hirizon, ditengah padang pasir yang luas.

Meski sudah setengah tenggelam di ujung  kaki langit sana, namun   sang mentari masih setia menemani sang langit, memberikan cahaya berona kemerahan. Setiap mata akan tersihir menikmatinya. Subhanallah.. sungguh indah. Hingga akhirnya, cahaya kemerah-merahan itu mulai hilang dan lenyap di telan oleh padang pasir.

Begitulah adventure ku dan teman-teman yang lain di dekat perbatasan Libia. Untung tidak ada pesawat Nato yang membombardir kami, mengira kami adalah pasukan pendukung Qadafi.

Setelah matahari benar-benar sampai di tempat peraduannya, kami kembali pulang menuju penginapan menyimpan kenangan terindah, bermain  mesra bersama ciptaan Sang Maha Indah.

Tepat pukul 07.00 malam, kami kembali ke penginapan diantar oleh jeep-jeep yang terlihat lelah menemani kami bermain. Sesampai di kamar, tak ada lagi yang bisa ku lakukan kecuali hanya memejamkan mata sejenak, menimati detik-detik terindah bermain di padang pasir tadi.

Setelah makan malam, kira-kira jam 23.00, aku dan teman-teman yang lain berangkat menuju Qaryah Barbariah. Susunan rumah batu yang yang terletak di atas bukit nan indah. Konon katanya, Qaryah Barbariah ini merupakan tempat tinggal suku ba-bar di Siwa yang sudah ada sebelum masehi. Hebatnya, Qaryah ini masih bertahan hingga sekarang.

Tepat pada pukul 00.00, aku kembali ke penginapan dengan jalan kaki karena memang jarak antara penginapan dan Qaryah Barbariah tidak begitu jauh. Sementara teman-teman yang lain ada yang sibuk mencari pernak-pernik Siwa, buah tangan untuk mereka yang belum berkesempatan menghirup udara Siwa. Sebenarnya aku juga sudah mencari oleh-oleh yang akan ku bawa pulang. Tapi karena sudah terlalu larut malam, tak banyak toko yang buka. Akhirnya ku pulang dengan tangan hampa. Sesampai di penginapan aku langsung tertidur pulas, tertidur hingga azan subuh kembali membangunkanku memerintahkanku untuk salat subuh.

 

Rihlah Hari Ketiga

 Hari ini adalah hari terakhir kami dimanjakan oleh ciptaan Allah. Setelah salat subuh, sebagian teman-temanku menyewa sepeda berputar mengelilingi kota Siwa sementara sebagian yang lain ada yang bermain bola.

 Setelah makan pagi, kami semua berangkat pulang menuju Kairo. Sebelum sampai di Kairo, kami masih berkesempatan untuk singgah sebentar di Pantai Obayed, di Kota Matruh. Di sini kami menunaikan salat zuhur dan asar. Tidak lupa, setelah salat kami bermain di tepi pantai menikmati putihnya pasir pantai dan birunya air laut, biru seperti bilau. Selesai bermain dengan puas, kami semua makan untuk yang kedua kalinya. Mengisi bensin untuk melanjutkan perjalanan.

Tepat pukul 16.00 sore, semua rangkaian Rihlah kami berakhir. Dari Matruh, kami berangkat pulang menuju Kairo. Tepat pada pukul 22.45 kami sampai kembali di Rumah Gadang dengan selamat.

Tidak kurang dari sebelas objek wisata yang kami kuak dalam tiga hari dan tiga malam. Waktu yang lumayan lama dan jarak yang sangat jauh, waktu di saat kami bercanda ria dengan ciptaan Allah, menembus batas cakrawala, berekreasi mencari inspirasi. Wisata yang benar-benar menyita perhatianku, bahkan aku lupa kalau aku masih berada di ambang pintu kesuksesan atau kegagalan, menunggu hasil ujian di AL Azhar.

Demikianlah sedikit tulisan untuk sharing dengan teman-teman semua. Semoga ada manfaatnya. Terimakasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s