Memberantas Kemungkaran dengan Kekerasan

Akhir-akhir ini sering kita dengar di berbagai media bahwa banyaknya ormas-ormas islam yang melakukan tindakan anarki dalam memberantas kekerasan. ada yang melakukan sweeping ke diskotik-diskotik dan menghancurkan segala yang ada di diskotik tersebut tanpa memikirkan apa yang akan menjadi akibat dari hal yang mereka lakukan.  Ada pula yang menyerang lawan kelompoknya tatkala melakukan demonstrasi sehingga jatuhnya korban, baik harta ataupun jiwa. Ada juga yang melakukan pengeboman di tempat yang berbau kebaratan, seperti di Kantor Kedubes Amerika. Intinya, saat mereka melihat realita sosial yang bertolak belakang dengan islam, di saat itulah mereka bangkit.

Semua hal yang dipaparkan diatas menunjukkan bahwa seolah islam adalah agama yang sangar dan bertentangan dengan azas rahmatan lil ‘alamin. Apakah benar tindakan yang mereka (red: ormas-ormas) lakukan? Apakah “Islam Emosianal” seperti ini bisa dibenarkan dalam pandangan islam?

Berbagai macam dalil di dalam Al quran maupun Hadis yang bercerita mengenai nahi  mungkar. Dari beberapa dalil tersebut, penulis mengutip semua Hadis yang sangat fenomenal yang biasa dijadikan kelompok-kelompok tertentu untuk menghalalkan kekerasan  yang mereka lakukan.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول :  من راى منكم منكرا فليغيره بيده, فإن لم يستطع فبلسانه ,  فإن لم يستطع فبقابه .  و ذلك أضعف الإيمان. رواه مسلم

Dari abi Sa’id  Alkhudri RA mengatakan: Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Siapapun diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisan. Jika tidak mampu, maka dengan hati. Itulah iman yang paling lemah”.

Ada diantara para da’i yang keliru dalam menafsirkan hadis ini. Sebagian mereka ada yang menjadikan hadis ini sebagai justivikasi aksi kekerasan dengan dalih memberantas kemungkaran. Saat ada kemungkaran, di sana harus ada tindakan dengan tangan atau bahkan dengan kekerasan untuk melenyapkan kemungkaran.  Mereka beranggapan bahwa orang yang sanggup melakukan hal tersebut, maka orang itu mempunyai iman yang kuat seperti yang disampaikan Nabi Muhammad SAW.

Namun bagaimana sebenarnya para ulama kita memahami hadis ini. Untuk itu, mari kita merujuk kepada kitab yang ditulis oleh ulama kita dahulu.

Di dalam kitab syarah shahih muslim , hadis nomor 20 / 21, bab kaunun nahyi ‘anil munkar minal iman halaman 215, Imam Nawawi  menjelaskan makna وذلك أصعف الإيمان , beliau menukil pendapat Qadhi ‘Iyadh:

قال القضي عياض رحمه الله: هذا الحديث أصل فى صفة التغيير, فحق المغير أن يغيره بكل وجه أمكنه زواله به قولا أو فعلا. فيكسر آلات الباطل, و يريق المسكر بنفسه أو يأمر من يفعله, و ينزع الغصوب ويردها إلى أصحابها بنفسه  أو بأمره إذا أمكنه, و يرفق فى التغييىر جهده با لجاهل و بذي العزة الظالم المخوف شره,  إذ ذالك أدعى إلى قبول قوله, كما يستحب ان يكون متولي ذالك من أهل الصلاح و الفضل لهذا المعنى, و يغلظ على المتمادي فى غيه و المسرف فى بطالته, إذا أمن أن يؤثر إغلاظه منكرا أشد مما غيره, لكون جانبه محميا عن سطوة الظالم, فإن غلب على ظنه   أن تغييره بيده يسبب منكرا أشد منه, من قتله أو قتل غيره بسبه كف يده واقتصر على القول با للسان و الوعظ و التخويف, فإن خاف أن يسبب قوله مثل ذلك غير بقلبه و كان في سعة, و هذا هو المراد بالحديث إن شاء الله تعالى, وإن وجد من يستعين به على ذلك إستعان ما لم يؤد ذلك إلى إظهار سلاح و حرب, و ليرفع ذلك إلى من له الأمر إن كان المنكر من غيره, أو يقتصر على تغيير بقلبه, هذا هو فقه المسألة و صواب العمل فيهاعند العلماء والمحققين, خلافا لمن راى الإنكار بالتصريح بكل حال و إن قتل و نيل من كل أذي.

Qadhi ‘Iyadh RA berkata: Hadis ini merupakan landasan dalam bernahi munkar. Si pengubah berhak dengan acara apapun yang mungkin dia lakukan, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Ia boleh merusak alat-alat maksiat dan menumpahkan benda-benda memabukkan secara personal, atau memerintahkan orang untuk melakukannya. Ia boleh mengambil barang yang di-ghasab  dan mengembalikan kepada dirinya secara personal  atau atas mandatnya jika memungkinkan. Hendaklah orang tersebut bersikap lemah lembut dengan sekuat tenaganya saat melakukan nahi mungkar dengan orang bodoh atau terhadap penguasa yang efek buruknya ditakuti karena sikap lemah lembut ini akan mebuat perkataannya lebih diterima. Begitu pula terhadap orang yang terhormat, juga dianjurkan bernahi mungkar dengan lemah lembut dengan alsan yang sama (lebih dapat diterima). Dia boleh bersikap keras terhadap orang yang berlebihan dalam maksiatnya jika kemungkinan besar tidak menyebabkan kemungkaran yang lebih besar dari apa yang dia lakukan karena orang itu masih berhak terlindung dari gangguan orang zalim. Jika kemungkinan besar nahi mungkar yang dia lakukan akan mengakibatkan kemungkaran yang lebih besar, misalnya terjadi pembunuhan terhadap dirinya atau terhadap orang lain karena menghalangi, ia hanya boleh bernahi mungkar dengan ucapan lisan semata, nasehat dan dengan   menakut-nakuti. Jika dia juga khawatir kalau  perkataannya akan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar, maka dia hanya boleh bernahi mungkar dengan hatinya saja dengan bebas. Inilah yang dimaksud dalam hadis ini, insyaallah.  Jika ada orang yang bisa diminta pertolongannya, maka dia boleh meminta tolong selagi tidak mengangkat senjata atau menimbulkan peperangan.  Dan hendaklah dia mengangkat urusan ini kepada penguasa  jika kemungkarang itu dilakukan oleh orang lain atau dia cukup bernahi mungkar dengan  hatinya saja. Inilah dia pemahaman yang benar mengenai masalah ini dan telah diamanlkan oleh para ulama dan ahli tahqiq, berbeda dengan orang yang bernahi mungkar dengan terang-terangan  pada setiap keadaan meskipun dia sampai terbunuh ataupun mendapat siksaan.

Informasi diatas memberikan kita keterangan apa yang dimaksud dengan “Iman yang paling lemah” dengan sangat jelas. Yaitu kita dianjurkan untuk lemah lembut dalam bernahi mungkar karena  sikap lemah lembut akan membuat apa yang kita lakukan mudah diterima oleh orang yang salah sehingga orang yang salah tersebut mengakui kesalahannya. Hal ini sesuai dengan cara berdakwah Nabi Muhammad yang menjunjung kelamahlembutan sebagai konsekuensi dari firman Allah bahwa islam itu adalah “Rahmatan lil ‘alamin”, rahmat bagi semua alam.

Kita juga dibolehkan melakukan tindakan kekerasan dalam bernahi mungkar jika efek dari kekerasan tersebut tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar seperti terbunuhnya orang, kerugian materi, ataupun kemungkaran yang lainnya. Jika kekerasan yang dilakukan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar, maka kita hanya boleh bernahi mungkar dengan lisan seperti dengan menakut-nakuti, menasehati, memperingatkan ataupun yang lainnya. Begitu juga tatkala lisan yang kita gunakan akan membuat kemungkaran yang lebih besar lagi, maka kita hanya boleh mernahi mungkar dengan hati saja semau kita, bisa dengan kita membenci kemungkaran yang dia lakukan atau yang lainnya.

Jika kita jeli melihat hadis ini, kita akan mengetahui bahwa pilihan bernahi mungkar (tangan, lisan. hati) sangat berkaitan erat dengan kondisi sosial hal inilah yang diamalkan oleh para ulama kita, berbeda dengan pemahaman orang – orang yang  mengangap bahwa pilihan bernahi mungkar berkaitan dengan kondisi orang yang bernahi mungkar. Mereka menganggap bahwa siapa yang bisa memberantas kemungkaran dengan tangannya maka dialah orang yang paling kuat imannya, siapa orang yang bisa memberantas kemungkaran hanya dengan lisan maka orang itu memiliki iman yang menengah, dan orang yang hanya bisa dengan hati maka itulah orang yang mempunyai iman orang yang paling lemah, dan semua itu tanpa melihat dari efek apa yang mereka lakukan. Kentaralah sekarang, bahwa pemahaman ini sangat keliru dan tidak diamalkan oleh para ulama kita.

Solusinya sekarang jika kita melihat ada orang yang keliru memahami cara bernahi mungkar, maka mari kita tunjuki orang itu , kita jelaska bagaimana jalan yang benar dalam bernahi mungkar sehingga warna islam kembali bercahaya di bumi ini. Wallahu a’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s