Hukum Menyewakan Rahim

Segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia di muka bumi ini, ada hukumnya dalam islam. Mulai dari manusia itu bangun tidur, hingga manusia itu tidur kembali. Tidak ada yang luput satu pekerjaan pun dari perhatian islam. Hukum pekerjaan tersebut bisa mubah, wajib, haram, makruh, ataupun bisa juga sunat.

Begitu juga dengan segala hal yang berkaitan dengan ilmu kedokteran, semuanya juga tidak luput dari sentuhan hukum islam. Apalagi masa sekarang ini, ilmu kedokeran sudah sangat maju. Di satu sisi ini merupakan kemajuan positif yang dicapai umat manusia, tapi di samping itu semua perkambangan tersebut harus diteliti dengan sangat mendalam dengan hukum islam agar kehidupan di dunia ini berlangsung seimbang. Jangan sampai nantinya kemajuan yang dicapai oleh manusia tersebut malah membawa bencana dan kerusakan dalam tatanan hidup kemanusiaan.

Kali ini penulis akan sedikit membahas mengenai isti’jar arham atau yang lebih dikenal dengan menyewakan rahim. Bagaimana hukumnya dalam islam, apakah boleh atau tidak.

  1. Pengertian dari Penyewaan Rahim

Yang dimaksud dengan hukum penyewaan rahim adalah seorang perempuan menyewakan kandungannya kepada orang lain dengan menerima imbalan atas penyewaan tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan mengandungkan ovum dan sperma dari pasangan suami dan istri di di dalam rahim wanita lain hingga senyawa yang dikandungkan tersebut lahir. Perempuan yang menyekan rahimnya ini diistilahkan dengan ummul badilah karena perempuan ini merupakan ibu pengganti bagi anak yang akan dilahirkan dari gabungan uvum dan sperma pasangan suami istri.

Dengan jalan ini, si istri bisa terjaga keselamatannya dari sakitnya melahirkan, bisa tetap terjaga kecantikannya, dan hal ini  juga dilakukan jikalau sang istri memang tidak mempunyai rahim atau punya rahim tapi tidak bisa digunakan untuk mengandung.

2.  Hukum Penyewaan Rahim di dalam Islam

Lalu, dengan kemajuan teknologi kedokteran saat ini, tentu saja penyewaan rahim sangat mungkin untuk dilakukan. Masalah ini, ummul badilah  merupakan perkara yang manjadi perhatian khusus  di akhir abad ini, karena ini sangat mempengaruhi kehidupan sosial bermasyarakat seorang anak manusia dan juga menjadi perhatian khusus bagi orang-orang barat karena masalah ini banyak terjadi dikalangan mereka.

Namun begitu, para ahli fikih (fuqaha’) kita telah lebih dahuli membahas masalah ini. Kita akan temukan dalam kitab fikih bermazhab syafii, hasyiyah al barmawi ‘ala syarhil ghayah li ibnil qasim al ghazi yang ditulis pada tahun 1074  H. Di dalam kitab tersebut dikisahkan bagaimana hukumnya jika seorang lelaki mempunyai dua orang istri. Kemudian lelaki ini menggauli salah satu istrinya, lalu hasil pertemuan dari sperma dan ovum ini diambil oleh istri yang satu lagi dan diletakkan di vaginanya, kamudian istri yang tidak digauli ini mengandung dan melahirkan anak. Apakah istrinya yang tidak digauli ini menjadi ibu dari anak tersebut atau tidak? Dan dalam hal ini telah terjadi keraguan untuk ditari hukumnya.

Begitulah cerdasnya ulama kita pada zaman dahulu. Belum lagi masalah itu timbul, hukumnya telah dikaji terlebih dahulu.

Kita masuk poin pentingnya, bagaimana hukumnya ummul badilah ini?

Para ulama kontemporer mengatakan bahwa ummul badilah atau seorang  perempuan yang  menyewakan rahimnya ini dilarang dalam agama islam karena anak yang dilahirkan tersebut bukan berasal dari suami yang sah bagi ummul badilah. Ini dia beberapa dalil yang menunjukkan pengharaman masalah ini:

a.       Tidak adanya hubungan pernikahan antara pemilik sperma dan pemilik  rahim

Dalam masalah ini kita tidak menemukan adanya hubungan yang sah antara pemiliki sperma dan dan pemilik rahim. Sementara itu syariat menyatakan bahwa dari hubungan perkawina sahnya seseorang melahirkan dari sperma orang lain. Alah berfirman dalam surat Ar-Ra’d ayat 38

ô‰s)s9ur $uZù=y™ö‘r& Wxߙ①`ÏiB y7Î=ö6s% $uZù=yèy_ur öNçlm; %[`ºurø—r& Zp­ƒÍh‘èŒur 4 $tBur tb%x. @AqߙtÏ9 br& u

’ÎAù’tƒ >ptƒ$t«Î/ žwÎ) ÈbøŒÎ*Î/ «!$# 3 Èe@ä3Ï9 9@y_r& Ò>$tGÅ2 ÇÌÑÈ

Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu).

Dan Allah juga menerangkan bahwa keturunan itu harus berasal daru hubungan suami istri yang dalam surat An-Nahl ayat 72

ª!$#ur Ÿ@yèy_ Nä3s9 ô`ÏiB ö/ä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& Ÿ@yèy_ur Nä3s9 ô`ÏiB Nà6Å_ºurø—r& tûüÏZt/ Zoy‰xÿymur

 Nä3s%y—u‘ur z`ÏiB ÏM»t6Íh‹©Ü9$# 4 È@ÏÜ»t6ø9$$Î6sùr& tbqãZÏB÷sムÏMyJ÷èÏZÎ/ur «!$# öNèd tbrãàÿõ3tƒ ÇÐËÈ

Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka Mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?”

b. Adanya ikatan secara syar’i antara bolehnya bergaul suami istri dengan pemilik rahim dan hak untuk melahirkan dari pemilik rahim tersebut

Sebagaimana dijelaskan dalam kaidah fikih secara umum bahwa siapapun yang memiliki hal untuk berhubungan suami istri dengan seorang perempuan, berarti dia juga berhak menghamili perempuan tersebut dan melahirkan anak dari perempuan tersebut dan begitu juga sebaliknya jikalau tidak boleh seorang lelaki berhubungansuami istri dengan seorang wanita, berarti dia juga tidak boleh mambuat wanita tersebut mengandung janinnya dan melahirkan anaknya dari wanita tersebut.

Lalu bagaimana halnya kalau ummul badilah tersebut juga merupakan istri  bagi  suami. Apakah hukumya dibolehkan? Maka jawabannya tetap saja dilarang. Karena hal ini berkemungkinan akan membawa perselisihan dikemudian hari jikalau nantinya anak yang dilahirkan mempunyai kelainan fisik ataupun mental, ataupun nantinya jika si istri pemilik ovum tersebut tidak mengakui anak yang lahir dari ummul badilah  dengan alasan yang masuk akal ataupun tidak.

c. Rahim bukan merupakan barang yang boleh untuk menjadi objek transaksi

Sebagaimana dikatakan ileh para ulama, bahwa sesuatu  yang boleh ditransaksikan maka barang tersebut boleh diberikan kepada orang lain seperti makanan atau minuman.  Dan objek ini juga boleh untuk diperjualbelikan dan dipersewakan.

Dan sebaliknya, para ulama juga telah menjelaskan ada objek-objek tertentu yang tidak boleh untuk diberikan, dihibahkan, apalagi sampai diperjual beikan atapun disewakan. Misalnya saja rahim. Dengan adanya larangan trasnsaksi rahim maka dengan demikian nasab akan terjaga, kedamaian akan berhembus di muka bumi ini dan ridha Allah akan menaungi kita sehingga pintu keberkahanpun turun dari langit dan bumi.

d. Agama islam mengharamkan segala jalan yang membawa kepada perselisihan dan pertengkaran

Allah berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 46 :

(#qãè‹ÏÛr&ur ©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur Ÿwur (#qããt“»uZs? (#qè=t±øÿtGsù |=ydõ‹s?ur ö/ä3çt†Í‘ ( (#ÿrçŽÉ9ô¹$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# yìtB

šúïΎÉ9»¢Á9$# ÇÍÏÈ

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Allah melarang kita untuk berbantah-bantahan dan melarang pertengkaran karena akan berakibat buruk bagi kita. Pertengkarang akan membuat persatuan kita menjadi lemah dan kita akan mudah dihancurkan oleh orang-orang yang  kafir.

Begitu pula dengan masalah ini, tentunya juga akan mendatangkan perselisihan di kemudian hari seperti siapa yang akan menjadi ibu dari anak yan dilahirkan tersebut, meskipun sudah dibuat perjanjian sebelumnya.

e. Syariat juga mengharamkan terjadinya percamburbauran keturunan

Jikalau sang pemiliki rahim tersebut telah menikah, tentunya dia juga akan melakukan hubungan badan dengan suaminya. Di saat sama, dia juga menyewakan rahimnya kepada orang lain. Tentu saja hal ini akan mambawa kepada percampuran nasab. Dan  hal ini diharamkan oleh syariat.

f. Masalah ini akan berdampak kepada pembuangan anak

Misalkan anak yang lahir dari ummil badilah ini terjadi suatu kelainan yang akan mempengaruhi kahidupan anak ini di dunia, seperti lubang hidunya hilang satu, atau jari kakinya ada tujuh,  atau matanya besar sebelah. Kemudian ummul badilah menyerahkan anak ini kepada pasangan yang meminjam rahimnya. Melihat anak yang dilahirkan ini mengalami kelainan, pasangan ini tidak mau menerima anak itu. Lalu anak ini mau dikemanakan? Maka islam telah mengharamkan hal ini terjadi.

3. Kalau terjadi juga, kepada siapa nasabnya?

Kalau masalah ini terjadi—yang  tentunya para pelaku mendapatkan dosa dari larangan yang diperbuat—kepada siapakah nantinya anak yang lahir ini dinasabkan? Maka ulama menjelaskan bahwa ada dua kemungkinan:

  1. Jiakalau perempuan tersebut tidak memiliki suami, maka anak tersebut dinasabkan kepada suami dari pasangan yang menyewa rahim
  2. Kalau ummul badilah tersebut telah memiliki istri, maka  untuk menentukan nasab anak yang dilahirkan harus menggunakan tes DNA (Bashmah Waratsiyyah)
Iklan

2 thoughts on “Hukum Menyewakan Rahim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s